Wednesday, January 27

21:58 WIB

Kota yang sudah kusinggahi sejak lama, malam ini, terasa sangat dingin. Hujan tak berhenti mengguyur kota kelahiranku semenjak satu jam yang lalu, lengkap dengan angin kencang dan suara petir yang menggelegar. Aku meringkuk dalam selimut, mencoba merasa hangat di tengah-tengah kedinginan. Namun, tidak. Usahaku tidak berhasil. 

Sedetik kemudian, ponselku berbunyi. Cepat, aku menggapai dan berusaha membaca nama yang muncul di layar ponselku. Aku menemukan namanya, dalam hitungan detik. Dia mengirimkan pesan singkat.

'Halo. Bagaimana kabarmu?'

Sejak lama aku menantikan namanya muncul di layar ponselku. Mencoba tidak terlalu memikirkannya, aku sengaja mencari kesibukan lain agar aku tidak terpaku kehadirannya, meski lewat pesan singkat. Namun, tetap saja. Sembari mengerjakan kesibukan-kesibukan yang memenuhi hariku, ia seakan memiliki ruang kosong di otakku. Ia memilikinya, dan ia bebas mengisi ruang kosong itu kapan saja, pun hari ini. Tidak hari ini saja. Setiap saat. Ia memilikinya.

Cepat, aku membalas pesan singkat darinya.

'Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?'

Susah bagiku untuk mengabaikan pesan singkat darinya. Lewat dua kalimat singkat, aku mengatakan padanya bahwa aku disini baik-baik saja. Sedikit berharap ia pun akan mengatakan hal yang sama denganku, bahwa ia baik-baik saja.

Aku merindukan sosoknya. Sangat rindu. Entah sudah berapa lama kami tidak saling bercerita tentang apa yang terjadi di kehidupan kami berdua. Entah sudah berapa lama kami tidak nonton film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Entah sudah berapa lama kami tidak saling bertukar playlist favorit masing-masing. Entah, sudah berapa lama kami menyimpan rindu masing-masing.

Ah, orang yang mengatakan bahwa rindu itu indah jelas tak pernah merasakan bagaimana itu rindu.

Rindu tanpa mengetahui, apakah orang yang kau rindukan juga merindukanmu, atau paling tidak sedikit berusaha untuk mengetahui kabarmu.

Aku tidak mengerti, sejak kapan ia mulai menjaga jarak denganku. Sempat aku berfikir bahwa aku telah melakukan sesuatu hal yang membuat ia sedikit marah, atau hilang rasa, atau apalah. Aku tidak mengerti. 

Padahal sebelumnya, kami masih membicarakan banyak hal. Kami masih membicarakan kehidupan kami masing-masing. Kami masih membicarakan mengapa coca cola bisa meledak bila diberi mentos. Kami masih membicarakan bagaimana caranya agar Coldplay bisa konser di kota kami. Kami masih membicarakan itu semua, dan tiba-tiba, malam ini, ia datang kembali. Menanyakan kabarku.

Dan tanpa aku duga sebelumnya, ia datang kembali, di sebuah malam di bulan Januari, menanyakan bagaimana kabarku.

Namun, 

Jikalau ia datang hanya untuk singgah karena lelah, lalu, untuk apa?

No comments:

Post a Comment