Monday, January 18

Konsep 'The One'

Konsep 'the one', adalah sesuatu yang abstrak.

Bagaimana parameter untuk menjadikan seseorang itu menjadi 'the one'? Menjadi nomor satu dan satu-satunya? Konsep orang yang 'the one' bagi seseorang lainnya begitu acak dan abstrak, sehingga mungkin kita sendiri tidak mengerti bagaimana menerapkannya.

Saya sendiri tidak tahu, kepada siapakah title 'The One' tersebut akan saya sematkan. Tentu, title ini di luar orang tua dan keluarga, jelas mereka lebih dari sekedar the one.

Dulu, saya pernah menganggap seseorang menjadi the one buat saya. Tidak ada alasan spesial yang mendasari mengapa saya menganggapnya sebagai the one and will be forever my number one in my life. Simpel sekali, bahwa ia, adalah orang pertama yang ada saat saya sedang di bawah. 

Kebetulan saya adalah orang yang gampang tersentuh. Jadi, ketika kelemahan saya sudah ditaklukan maka kalian bisa langsung mengontrol saya, hahaha. Sungguh murah.

Selain alasan bahwa 'ia adalah orang yang pertama ada di saat saya benar-benar membutuhkan', ia juga orang yang bisa membuat saya tidak bosan untuk mengobrol lama, karena jujur saja, saya adalah orang yang cepat bosan. Sedangkan ia, adalah satu-satunya orang (atau mungkin tidak satu-satunya, sih. Saya hanya belum menemukan orang lain saja, haha. Curhat ya ini) yang bisa mengontrol itu. 

Dan dengan polosnya, saya memberinya title the one. Padahal menurut saya saat ini, saat-saat itu masih terlalu dini untuk menyematkan titel the one kepada seseorang.

Polosnya saya.

Setelah saya percaya bahwa ia adalah that the one bagi saya, beberapa bulan kemudian ia menjadi someone's number one. 

Kisah pahit di masa lalu.

Baiklah, maka dari itu, saya menulis tentang konsep the one tersebut.

-------------------------------------------------------------------------------------

The One.

Apakah ketika kamu menemukan orang yang baik hati dan peduli denganmu, lantas ia bisa diberi titel the one tersebut? Saya rasa itu langkah yang terburu-buru.

Seringkali saya menemukan, mereka menyematkan titel the one kepada pasangan masing-masing. Ketika ditanya alasannya mengapa, mereka akan menjawab dengan 1001 kata-kata romantis bahwa katanya, pasangan mereka lah yang ada di saat mereka bahagia maupun sedih, selalu tanggap dan cepat saat mereka butuh bantuan, romantis in their own way, dan selalu membuat wajah mereka tersenyum.

Tidak salah, tentu. Saya sudah bilang di atas, bahwa konsep the one sudah terlalu abstrak. Namun seringkali, mereka memanfaatkan dan menyalahgunakan konsep the one, hingga tidak menyadari bahwa belum tentu orang yang mereka anggap the one itu bukan the one. Seperti kisah saya di atas, menyedihkan. 

Yah, sepahit-pahitnya hidup, kalau kamu menganggap ia the one karena ia amat sangat baik terhadap kamu, mungkin ia hanya mencoba friendly dan kind terhadap semua orang.

Gini lho, maksudnya.

Seringkali saya gerah melihat orang menyelewengkan title the one kepada orang yang salah, karena tebruru-buru menginginkan memiliki orang yang satu-satunya dan menjadi nomor satu di kehidupan mereka. Saking percayanya mereka bahwa orang-orang tersayangnya adalah the one, mereka menjadi buta dan tidak ingin mendengarkan kebenaran (anjay, kebenaran) yang telah dibawa orang lain. Ketika mereka mengetahui bahwa orang itu bukan that the one as they wish, mereka hanya bisa menangis, nulis blog sambil dengerin lagu Raisa, menangis, nulis blog sambil dengerin lagu Raisa, dan seterusnya. Sudah, begitu saja siklusnya sampai Raisa tidak memproduksi lagu lagi.

Menurut saya, tidak mudah bagi kita untuk mengatakan, 'He is the one." "Wah, dia udah menjadi my number one di kehidupan saya,". Semacam masuk kuliah, ada requirements tersendiri untuk menentukannya. 

Karena kita tidak semurah itu untuk mengatakan "You're the one for me" kepada orang lain yang (ternyata) tidak pantas, dan kemudian berakhir dengan menyedihkan. Tidak. Bukan ending seperti itu yang kita inginkan, kan?

Soon, we'll deeply say to someone that they're our number one. Tidak usah terburu-buru, atau hanya iri karena teman-teman sepermainan sepertinya sudah menemukan their the one masing masing. Siapa tahu, ternyata mereka juga salah sasaran. Sama seperti kita, yang masih terburu-buru untuk menentukan siapa yang pantas bagi kita.

Waduh.

He's the one; i don't know why i said this. i never think he will be my one. he doesn't give me rose everyday like my 'old' one did. he rarely send me sweet good morning text. he's not that kind of person in relationship goals that everyone post on instagram.

but

when i saw him, when i stand near by him, when i hear his voice through my ear, 

i know he has the same heart beat as i do,

and,

when i stare his eyes, both of his eyes, i've known already, he will, and he is my one


Baik. Saya tahu, memang tidak semudah itu menemukan our number one hanya dengan menatap mata seseorang dalam-dalam. Hanya saja, bila ia adalah our number one, tentu kita tidak usah ragu lagi meski hanya menatap matanya dalam dalam.

Ok guys, good luck on finding our number one!

No comments:

Post a Comment