Tuesday, January 26

21.30 WIB

Malam di hari ke 25 di bulan Januari tahun ini terasa sangat dingin. Musim hujan sedang getol-getolnya, membuat jalanan kota tergenang air dan orang-orang mengumpat karena terciprat genangan air di beberapa jalanan dikarenakan pengendara mobil yang seenaknya melaju dengan kencang melewati genangan tersebut. 

Untuk mengurangi rasa dingin, segera aku menuju dapur untuk membuat segelas teh hangat. Mungkin saja teh hangat yang melalui kerongkonganku bisa segera menyebarkan rasa hangat ke seluruh tubuhku.

Ah, teh. Mengapa tidak kopi seperti layaknya orang lain?

Mungkin aku tak seperti orang lain yang menggilai kopi. Kata mereka, kopi memendam sejuta makna. Kata mereka, pahitnya kopi adalah seni. Kataku, tidak. Itu biasa saja. Kopi menjadi sedemikian dramatis, karena mereka termakan film-film romantis yang lebih banyak menggunakan kopi di setiap adegannya. Aku masih ingat dengan adegan romantis di sebuah film Indonesia yang menjelaskan makna mengaduk kopi dengan sajak yang indah. Mungkin saja hal itu yang membuat satu juta rakyat Indonesia menggilai keadaan kopi, sementara aku masih berkutat dengan segelas teh hangat.

Aku memang seperti wanita lansia.

Segelas teh hangat telah kubuat, segera aku menuju kamarku kembali untuk kembali membungkus badanku dengan selimut sambil meminum teh hangatku, dan tak lupa, melihat-lihat kegiatan teman-temanku melalui social media.

Hidup ini sepertinya memang sudah dimudahkan dengan keadaan internet, ya? Aku masih ingat jelas, hidupku tanpa internet saat aku SD. Aku yang kolot, tiap sore selalu keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman satu komplek perumahan untuk menghabiskan waktu, bahkan aku sempat bermain ke sawah, melihat-lihat calon pangan yang sedang ditanam oleh para petani, atau, bila tidak pergi ke sawah, aku akan mencari daun pepaya untuk dibuat kalung. 

Hingga pada suatu hari aku mengenal internet, dan menemukan social media.

Social media seakan diciptakaan agar manusia bisa dengan mudah memamerkan segala kegiatan yang telah mereka lalui seharian ini atau beberapa hari yang lalu. Memasang momen terbaik, dan tak lupa senyum terbaik.

Terkadang kita lupa, bahwa apa yang muncul di social media adalah hanya sebagian persen dari seluruh kehidupan mereka pada hari itu. Ketika mereka memposting sebuah foto yang diwarnai senyum kebahagiaan dan kegembiraan, hal itu tidak mengindikasikan bahwa hari itu sang empunya account tersebut memang merasa bahagia dan gembira. Karena sebuah foto mungkin bisa mendeskripsikan sebuah keadaan namun tak semua keadaan bisa diekspresikan lewat satu foto saja.

Senyum seseorang, siapa yang tahu artinya apa?

Orang-orang kita memang agak (sok) mengerti segalanya.

Ya, mungkin sebagian orang tak setuju dengan statement ku barusan, bahwa orang-orang kita memang agak (sok) mengerti segalanya. Aku tak habis pikir, mengapa begitu mudahnya bagi mereka untuk menyimpulkan segala sesuatu hanya dari sebuah foto, dan bahkan bila ditelusuri, foto tersebut sebuah kegiatan selama lima belas menit dari 24 jam hidup mereka hari itu? Men, mereka jelas membutuhkan piknik, yang jauh, selama satu semester, dua kali setahun.

---------------------------------------------------------

Apakah salah menjadi orang yang (sok) mengerti segalanya?

Aku rasa di dunia ini kita tidak bisa menyimpulkan begitu mudah, mana yang benar dan mana yang salah. Meskipun masing-masing agama di muka bumi ini memiliki kitab suci sebagai pedoman untuk berperilaku salah dan benar, menurutku, tidak ada hal yang benar maupun salah.

Atau membenarkan yang salah.

Atau menyalahkan yang benar sekalipun.

Bukankah kita sudah cukup dewasa untuk menyimpulkan hal itu?

No comments:

Post a Comment