Wednesday, July 6

Selamat Hari Raya

Takbir berkumandang terus-terusan sejak semalam, membuatku dan saudara-saudara yang lain semakin tidak sabaran. Hari ini, 1 Syawal 1437 H akhirnya datang. Simbol hari kemenangan, setelah sebulan lamanya kami memiliki berbagai nafsu yang harus ditahan. Alhamdulillah!

Semua orang sibuk bermaaf-maafan, tidak sedikit pula mereka menunggu giliran menerima amplop berisi bingkisan. Beberapa yang lainnya sibuk memasak di dapur untuk tamu yang berdatangan, pun menyiapkan berbagai makanan ringan untuk menjadi santapan.

Kami mencintai momen-momen langka seperti lebaran, dimana orang-oranng rela menempuh jarak puluhan hingga ratusan kilometer untuk memupuk rasa persaudaraan, menanti saat-saat untuk berkumpul dan melepas rindu yang sudah lama tertahan.

Selamat Idul Fitri, semua! Semoga puasa satu bulan kemarin dapat menjadi berkah yang luar biasa, diterima oleh Allah SWT, dan menjadi ladang pahala bagi kita semua. :)

Wednesday, June 29

Saya Juga Belajar, Dari Kalian

Di semester empat ini, saya memiliki dua kesempatan untuk memberikan sedikit pengetahuan tentang dunia arsitektur di dua Taman Kanak-Kanak. Yang pertama, di TK Kauman dan yang kedua di TK Don Bosko. Banyak orang yang bertanya-tanya; mengapa tidak memilih TK yang lebih membutuhkan pengetahuan, daripada mengisi dan mengajar di TK yang berisi anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke atas?

Baik, alasan mendasar mengapa memilih dua TK tersebut, adalah, pilihan dosen saya. Ya, alasan mendasar yang tidak mendasar sekali, ya. Namun, pertanyaan-pertanyaan dari beberapa teman saya justru membuat saya sedikit terganggu, tentang; "Kenapa tidak memilih TK yang lebih 'kasihan' saja, sih?"

Begini, begini.

Memang, adik-adik dari TK yang notabene berasal dari masyarakat ekonomi menengah kebawah mungkin lebih membutuhkan pengetahuan dari kita. Namun bukan berarti, adik-adik dari TK yang notabene berasal dari masyarakat ekonomi menengah keatas tidak membutuhkan pengetahuan tersebut. Semua anak berhak atas pengetahuan tambahan, karena meski mereka berasal dari masyarakat menengah ke atas dan lebih memiliki fasilitas, bukan berarti lantas mereka memiliki fasilitator yang pantas dan mampu untuk menyampaikan materi. Memang, adik-adik yang berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke atas memiliki sedikit kemudahan untuk lebih mengerti, namun hal itu tidak lantas membuat mereka merasa terfasilitasi untuk menjadi lebih mengerti daripada adik-adik dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Menyikapi hal tersebut, saya penasaran untuk mencari wadah untuk menyentuh teman-teman yang 'katanya' lebih pantas disentuh. Seperti dimudahkan oleh Tuhan (yailah), ada project milik kakak tingkat saya untuk mengajar di Kampung Malang, Semarang.

Kampung Malang adalah sebuah tempat yang bisa dibilang berada di tengah kota, namun tersudutkan. Terkenal akan kekumuhan dan masyarakatnya yang memiliki taraf ekonomi menengah ke bawah. Permukiman ini juga terkenal akan kepadatannya.

Selama bulan Ramadhan, dua kali seminggu, saya menyempatkan sedikit waktu untuk bergabung dengan anak-anak di Kampung Malang. Mayoritas berusia 5-12 tahun. Ada yang masih TK Kecil, ada yang sudah kelas 1 SD, ada juga bahkan anak-anak kelas 6 SD yang baru saja rampung menyelesaikan ujian nasional. Beragam usia ada di kelas ini, membuat kami sedikit kewalahan untuk membagi porsi kegiatan yang cocok. Beda usia, beda perlakuan, sehingga beberapa hari di kelas berjalan kurang efektif karena kurang cocok untuk anak-anak kelas 6 SD yang sudah tidak tertarik untuk kegiatan belajar yang kekanak-kanakan. Huhu, maaf ya, Dik. :'

Tentu, sikap dari adik-adik di Kampung Malang sangat berbeda dengan adik-adik di TK Kauman dan Don Bosko. Pada pertemuan pertama, saya masih sedikit tidak terbiasa dengan sikap adik-adik dari Kampung Malang. Jangan mengharapkan sikap-sikap manis, karena adik-adik yang saya hadapi sepertinya telah menjalani pahit-manis-kerasnya hidup melebihi yang saya sudah hadapi. Keras kepala, chaos, ribut, kasar, adalah makanan sehari-hari selama berkecimpung langsung di Kampung Malang. Namun saya masih bisa memahami, mungkin saja kehidupan yang mereka alami-lah yang menciptakan karakter masing-masing anak. Mungkin keadaan lingkunganlah yang telah menciptakan karakter masing-masing anak. Mungkin keadaan ekonomi yang mereka hadapilah, yang telah menciptakan karakter masing-masing anak.

Tetapi, anak-anak tetaplah anak-anak. Beberapa hal dibalik kerasnya mereka, ributnya mereka, susah diaturnya mereka, adalah ketulusan hati dan semangat dari dalam diri untuk mengetahui dan meraih pengetahuan seluas-luasnya. Kepolosan yang terpancar dari benik mata mereka, tetaplah kepolosan anak-anak yang masih suka makan coklat dan mendengarkan cerita dongeng sebelum tidur. 

Yang saya cintai dan senangi dari anak-anak Kampung Malang ini adalah, mereka adalah generasi yang belum terlalu terkontaminasi oleh canggihnya teknologi kita. Mereka masih bermain sepeda di sore hari setelah mandi dan pupuran, berteriak satu sama lain untuk membuktikan bahwa merekalah yang terhebat, masih bercengkrama mengobrol dengan sesama hanya untuk menghabiskan waktu, dan sebelum maghrib, mereka harus sudah ada di mushola dan kemudian pulang ke rumah masing-maisng. Di lingkungan tersebut, hanya ada satu lapangan berisi satu perosotan usang dan kerangka gerobak. Sesederhana itulah permainan yang tersedia, namun masih menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka. Saya mencintai kebahagiaan yang berasal dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang menciptakan senyuman :)

Ya, meskipun sumber kebahagiaan mereka juga berasal dari tayangan televisi dan kaset PS, sih. Hehe.

Dari pengalaman ini pun, saya belajar banyak, untuk lebih mengerti arti kebahagian yang sesungguhnya, arti mensyukuri yang sesungguhnya, arti saling memiliki yang sesungguhnya, dan satu lagi: bahwa ada tiga hal yang patut dan harus dimiliki oleh siapa saja, tidak memandang usia, tingkat ekonomi, dan latar belakang keluarga, adalah ilmu, mimpi, dan kebahagiaan. 

Selamat mencari ilmu, menggapai mimpi, dan menciptakan kebahagiaan! 












Thursday, June 2

Be Kind

Menjadi orang baik, tidak butuh alasan
Menjadi orang baik, tidak ada persyaratan
Cukup menjadi dirimu apa adanya,
Saya percaya, pada dasarnya, semua orang terlahir dengan hati yang bersih 
Tidak ada satupun manusia lahir yang telah direncanakan menjadi orang jahat
Tidak ada satupun manusia lahir yang telah direncanakan menjadi pencuri
Atau perampok
Atau pembunuh
Apa yang mendorong mereka menjadi mereka yang sekarang?
Tidak ada yang tahu
Keadaan?
Keadaan tidak bisa disalahkan
Semua insan terlahir dari rahim seorang ibu yang berharap bahwa mereka akan menjadi manusia yang berguna dan membahagiakan orang disekitarnya
Membawa doa; bahwa semoga ia akan menjadi orang yang tidak akan mengecap jahatnya dunia
Cukup jadilah orang baik
Saya yakin, dengan menjadi baik, kamu sudah mengabulkan salah satu doa orang tua
Menjadi baik, tidak membuat kita menjadi manusia yang dirugikan
Bila memang tidak bisa menjadi baik,
Berusahalah menjadi baik
---------------------------------------------
Karena aku percaya;
Kita tidak akan selamanya krisis orang baik....
-
Semarang, 2 Juni 2016
21.40 WIB
Khansa Saffana


Saturday, May 7

May 7 2016

happiness is simple

saya suka membicarakan apa-apa saja yang membuat saya dan kalian bahagia. kadang kita terlalu fokus untuk mencari kebahagian dengan cara-cara yang justru menyusahkan kita, padahal kebahagiaan itu tidak perlu dicari, tapi dibuat.

asing ga sih sama statement 'create your own happiness'?

tidak. statement itu sering banget dan bahkan mungkin nyantol banget di pikiran, kapanpun dan dimanapun. ya, karena menjadi bahagia itu kita bikin sendiri. we have our own requirements to be happy, dan tiap orang berbeda-beda.

melihat anda-anda semua bahagia pun termasuk dalam list saya untuk menjadi bahagia. rasanya senang gak sih, melihat orang-orang di sekitar kita senyum terus, meskipun kita lagi capek, but knowing that there're reasons for us to be happy.

salah satu alasan kenapa saya memilih departemen sosial di himpunan sekarang, adalah untuk membantu orang-orang menjadi, at least, happy.

sebulan yang lalu, saya menjadi ketua acara pengabdian masyarakat di sebuah TK di kawasan kauman, dengan agenda utama mengajarkan bangunan cagar budaya di kota semarang dengan sarana permainan edukatif. persiapan untuk membuat acara ini fun dan membuat adik-adik disana menjadi senang dan enjoy dengan kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia terbayar banget dengan respon adik-adik yang ternyata senang dengan kegiatan yang telah kami rancang. their happiness is super priceless! 

kids are adorable. ketika mereka senang, ya mereka senang. ketika mereka tertawa, ya karena memang something fun happened. kids are so easy to be happy because they think happiness comes from the simplest thing. 

ya kenapa kita tidak belajar dari anak-anak kecil yang gampang seneng? 

apa sih tujuan hidup di dunia ini selain mengabdi kepada sang Pencipta? yes, to be happy.

jadi, find your own happiness around you!


Friday, April 29

Spasi

Apa yang akan terjadi bila kalimat-kalimat yang suka kau baca tertulis tanpa spasi?
Ia yang indah menjadi tidak terpahami
Ia yang memiliki makna menjadi sederet huruf tanpa arti
Ia yang berarti menjadi tidak membuatmu mengerti

Dengan adanya jarak, tidak lantas membuat semua terlihat menyedihkan
Mungkin jarak memang memisahkan, tapi apabila jarak memisahkan untuk membuat kita lebih paham, apakah itu akan menjadi hal yang buruk?

Sunday, April 10

Sunday

22:36 WIB
Semarang, Indonesia

Apa yang kau harapkan dari mencintai dalam diam?

Ingin bertukar sapa namun sungkan

Merasa jengah ketika yang kau cinta memberi perhatian lebih pada orang lain, namun kau tidak ada hak

Ingin sedikit memberi celah namun tidak terlihat

Sometimes the butterflies on my stomach doesn't show me that I'm in love, but it's just a pain

Wednesday, January 27

21:58 WIB

Kota yang sudah kusinggahi sejak lama, malam ini, terasa sangat dingin. Hujan tak berhenti mengguyur kota kelahiranku semenjak satu jam yang lalu, lengkap dengan angin kencang dan suara petir yang menggelegar. Aku meringkuk dalam selimut, mencoba merasa hangat di tengah-tengah kedinginan. Namun, tidak. Usahaku tidak berhasil. 

Sedetik kemudian, ponselku berbunyi. Cepat, aku menggapai dan berusaha membaca nama yang muncul di layar ponselku. Aku menemukan namanya, dalam hitungan detik. Dia mengirimkan pesan singkat.

'Halo. Bagaimana kabarmu?'

Sejak lama aku menantikan namanya muncul di layar ponselku. Mencoba tidak terlalu memikirkannya, aku sengaja mencari kesibukan lain agar aku tidak terpaku kehadirannya, meski lewat pesan singkat. Namun, tetap saja. Sembari mengerjakan kesibukan-kesibukan yang memenuhi hariku, ia seakan memiliki ruang kosong di otakku. Ia memilikinya, dan ia bebas mengisi ruang kosong itu kapan saja, pun hari ini. Tidak hari ini saja. Setiap saat. Ia memilikinya.

Cepat, aku membalas pesan singkat darinya.

'Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?'

Susah bagiku untuk mengabaikan pesan singkat darinya. Lewat dua kalimat singkat, aku mengatakan padanya bahwa aku disini baik-baik saja. Sedikit berharap ia pun akan mengatakan hal yang sama denganku, bahwa ia baik-baik saja.

Aku merindukan sosoknya. Sangat rindu. Entah sudah berapa lama kami tidak saling bercerita tentang apa yang terjadi di kehidupan kami berdua. Entah sudah berapa lama kami tidak nonton film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Entah sudah berapa lama kami tidak saling bertukar playlist favorit masing-masing. Entah, sudah berapa lama kami menyimpan rindu masing-masing.

Ah, orang yang mengatakan bahwa rindu itu indah jelas tak pernah merasakan bagaimana itu rindu.

Rindu tanpa mengetahui, apakah orang yang kau rindukan juga merindukanmu, atau paling tidak sedikit berusaha untuk mengetahui kabarmu.

Aku tidak mengerti, sejak kapan ia mulai menjaga jarak denganku. Sempat aku berfikir bahwa aku telah melakukan sesuatu hal yang membuat ia sedikit marah, atau hilang rasa, atau apalah. Aku tidak mengerti. 

Padahal sebelumnya, kami masih membicarakan banyak hal. Kami masih membicarakan kehidupan kami masing-masing. Kami masih membicarakan mengapa coca cola bisa meledak bila diberi mentos. Kami masih membicarakan bagaimana caranya agar Coldplay bisa konser di kota kami. Kami masih membicarakan itu semua, dan tiba-tiba, malam ini, ia datang kembali. Menanyakan kabarku.

Dan tanpa aku duga sebelumnya, ia datang kembali, di sebuah malam di bulan Januari, menanyakan bagaimana kabarku.

Namun, 

Jikalau ia datang hanya untuk singgah karena lelah, lalu, untuk apa?

Apa Arti Senja, Menurutmu?

Senja adalah sebuah kesempatan bagi Sang Pencipta, untuk menjelaskan, bahwa sesungguhnya masih ada hal yang patut kau syukuri selagi kau tengah suntuk dengan rutinitasmu, karena, ketika senja datang, hentikanlah semua resahmu dan cukup rasakan hangat yang senja berikan sembari memandangi langit yang tengah berganti wujud. 

Atau,

Apakah senja sama seperti seseorang di masa lalu - yang mengaku lelah memberi sinar di harimu, meminta waktu untuk rehat sejenak, namun ternyata ia tengah menyinari seseorang di sisi yang lain?

Tuesday, January 26

21.30 WIB

Malam di hari ke 25 di bulan Januari tahun ini terasa sangat dingin. Musim hujan sedang getol-getolnya, membuat jalanan kota tergenang air dan orang-orang mengumpat karena terciprat genangan air di beberapa jalanan dikarenakan pengendara mobil yang seenaknya melaju dengan kencang melewati genangan tersebut. 

Untuk mengurangi rasa dingin, segera aku menuju dapur untuk membuat segelas teh hangat. Mungkin saja teh hangat yang melalui kerongkonganku bisa segera menyebarkan rasa hangat ke seluruh tubuhku.

Ah, teh. Mengapa tidak kopi seperti layaknya orang lain?

Mungkin aku tak seperti orang lain yang menggilai kopi. Kata mereka, kopi memendam sejuta makna. Kata mereka, pahitnya kopi adalah seni. Kataku, tidak. Itu biasa saja. Kopi menjadi sedemikian dramatis, karena mereka termakan film-film romantis yang lebih banyak menggunakan kopi di setiap adegannya. Aku masih ingat dengan adegan romantis di sebuah film Indonesia yang menjelaskan makna mengaduk kopi dengan sajak yang indah. Mungkin saja hal itu yang membuat satu juta rakyat Indonesia menggilai keadaan kopi, sementara aku masih berkutat dengan segelas teh hangat.

Aku memang seperti wanita lansia.

Segelas teh hangat telah kubuat, segera aku menuju kamarku kembali untuk kembali membungkus badanku dengan selimut sambil meminum teh hangatku, dan tak lupa, melihat-lihat kegiatan teman-temanku melalui social media.

Hidup ini sepertinya memang sudah dimudahkan dengan keadaan internet, ya? Aku masih ingat jelas, hidupku tanpa internet saat aku SD. Aku yang kolot, tiap sore selalu keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman satu komplek perumahan untuk menghabiskan waktu, bahkan aku sempat bermain ke sawah, melihat-lihat calon pangan yang sedang ditanam oleh para petani, atau, bila tidak pergi ke sawah, aku akan mencari daun pepaya untuk dibuat kalung. 

Hingga pada suatu hari aku mengenal internet, dan menemukan social media.

Social media seakan diciptakaan agar manusia bisa dengan mudah memamerkan segala kegiatan yang telah mereka lalui seharian ini atau beberapa hari yang lalu. Memasang momen terbaik, dan tak lupa senyum terbaik.

Terkadang kita lupa, bahwa apa yang muncul di social media adalah hanya sebagian persen dari seluruh kehidupan mereka pada hari itu. Ketika mereka memposting sebuah foto yang diwarnai senyum kebahagiaan dan kegembiraan, hal itu tidak mengindikasikan bahwa hari itu sang empunya account tersebut memang merasa bahagia dan gembira. Karena sebuah foto mungkin bisa mendeskripsikan sebuah keadaan namun tak semua keadaan bisa diekspresikan lewat satu foto saja.

Senyum seseorang, siapa yang tahu artinya apa?

Orang-orang kita memang agak (sok) mengerti segalanya.

Ya, mungkin sebagian orang tak setuju dengan statement ku barusan, bahwa orang-orang kita memang agak (sok) mengerti segalanya. Aku tak habis pikir, mengapa begitu mudahnya bagi mereka untuk menyimpulkan segala sesuatu hanya dari sebuah foto, dan bahkan bila ditelusuri, foto tersebut sebuah kegiatan selama lima belas menit dari 24 jam hidup mereka hari itu? Men, mereka jelas membutuhkan piknik, yang jauh, selama satu semester, dua kali setahun.

---------------------------------------------------------

Apakah salah menjadi orang yang (sok) mengerti segalanya?

Aku rasa di dunia ini kita tidak bisa menyimpulkan begitu mudah, mana yang benar dan mana yang salah. Meskipun masing-masing agama di muka bumi ini memiliki kitab suci sebagai pedoman untuk berperilaku salah dan benar, menurutku, tidak ada hal yang benar maupun salah.

Atau membenarkan yang salah.

Atau menyalahkan yang benar sekalipun.

Bukankah kita sudah cukup dewasa untuk menyimpulkan hal itu?

Wednesday, January 20

21.57

Halo

Kota yang kusinggahi semenjak 20 tahun yang lalu ini terasa dingin. Memang dingin. Kulihat di hp ku bahwa malam ini suhu mencapai 27 derajat celcius.

Masih dalam taraf hangat, seharusnya. Namun karena aku tinggal di negara tropis, bila suhu di kotaku menginjak angka 27 pun aku senang. Malam ini, aku tidak akan tidur dalam keadaan berkeringat.

Dalam suhu 'sedingin' itu, seharusnya aku sudah terlelap sejak satu jam yang lalu, namun realitanya aku masih melihat layar handphone ku dan mengetik beberapa kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan pada akhirnya membentuk paragraf yang tidak ada artinya.

Atau mungkin ada, namun tak terartikan.

Atau mungkin aku hanya meluapkan sisa-sisa rinduku yang tidak pernah aku luapkan.

Aku tidak pernah mengucapkan "Aku rindu denganmu." atau hanya sekedar "Apa kabar?" untuk sedikit mengurangi rasa rinduku. Tidak pernah. Hal ini terdengar menjijikkan, dan aneh untuk diucapkan. Atau aku hanya malu, dan merasa canggung untuk (paling tidak) mencoba mengatakannya. Namun sekali lagi, tidak pernah.

Tapi, mungkin, sekarang aku bisa sedikit sedekat melepasnya.

----------------------------------------------------------------------

Halo, 

Bagaimana kabarmu? Apakah semua berjalan dengan baik?

Tidak banyak yang ingin aku katakan, aku hanya ingin menyampaikan tiga poin penting. Semoga kau berkenan membalasnya, atau hanya sekedar membaca dan memaknainya.

1. Semoga kau akan selalu baik-baik saja.
2. Jaga kesehatanmu.
3. Aku rindu kamu.

Selamat malam, semoga Tuhan selalu menjagamu dalam keadaan apapun termasuk ketika kamu sedang terlelap dalam mimpimu.

Monday, January 18

Konsep 'The One'

Konsep 'the one', adalah sesuatu yang abstrak.

Bagaimana parameter untuk menjadikan seseorang itu menjadi 'the one'? Menjadi nomor satu dan satu-satunya? Konsep orang yang 'the one' bagi seseorang lainnya begitu acak dan abstrak, sehingga mungkin kita sendiri tidak mengerti bagaimana menerapkannya.

Saya sendiri tidak tahu, kepada siapakah title 'The One' tersebut akan saya sematkan. Tentu, title ini di luar orang tua dan keluarga, jelas mereka lebih dari sekedar the one.

Dulu, saya pernah menganggap seseorang menjadi the one buat saya. Tidak ada alasan spesial yang mendasari mengapa saya menganggapnya sebagai the one and will be forever my number one in my life. Simpel sekali, bahwa ia, adalah orang pertama yang ada saat saya sedang di bawah. 

Kebetulan saya adalah orang yang gampang tersentuh. Jadi, ketika kelemahan saya sudah ditaklukan maka kalian bisa langsung mengontrol saya, hahaha. Sungguh murah.

Selain alasan bahwa 'ia adalah orang yang pertama ada di saat saya benar-benar membutuhkan', ia juga orang yang bisa membuat saya tidak bosan untuk mengobrol lama, karena jujur saja, saya adalah orang yang cepat bosan. Sedangkan ia, adalah satu-satunya orang (atau mungkin tidak satu-satunya, sih. Saya hanya belum menemukan orang lain saja, haha. Curhat ya ini) yang bisa mengontrol itu. 

Dan dengan polosnya, saya memberinya title the one. Padahal menurut saya saat ini, saat-saat itu masih terlalu dini untuk menyematkan titel the one kepada seseorang.

Polosnya saya.

Setelah saya percaya bahwa ia adalah that the one bagi saya, beberapa bulan kemudian ia menjadi someone's number one. 

Kisah pahit di masa lalu.

Baiklah, maka dari itu, saya menulis tentang konsep the one tersebut.

-------------------------------------------------------------------------------------

The One.

Apakah ketika kamu menemukan orang yang baik hati dan peduli denganmu, lantas ia bisa diberi titel the one tersebut? Saya rasa itu langkah yang terburu-buru.

Seringkali saya menemukan, mereka menyematkan titel the one kepada pasangan masing-masing. Ketika ditanya alasannya mengapa, mereka akan menjawab dengan 1001 kata-kata romantis bahwa katanya, pasangan mereka lah yang ada di saat mereka bahagia maupun sedih, selalu tanggap dan cepat saat mereka butuh bantuan, romantis in their own way, dan selalu membuat wajah mereka tersenyum.

Tidak salah, tentu. Saya sudah bilang di atas, bahwa konsep the one sudah terlalu abstrak. Namun seringkali, mereka memanfaatkan dan menyalahgunakan konsep the one, hingga tidak menyadari bahwa belum tentu orang yang mereka anggap the one itu bukan the one. Seperti kisah saya di atas, menyedihkan. 

Yah, sepahit-pahitnya hidup, kalau kamu menganggap ia the one karena ia amat sangat baik terhadap kamu, mungkin ia hanya mencoba friendly dan kind terhadap semua orang.

Gini lho, maksudnya.

Seringkali saya gerah melihat orang menyelewengkan title the one kepada orang yang salah, karena tebruru-buru menginginkan memiliki orang yang satu-satunya dan menjadi nomor satu di kehidupan mereka. Saking percayanya mereka bahwa orang-orang tersayangnya adalah the one, mereka menjadi buta dan tidak ingin mendengarkan kebenaran (anjay, kebenaran) yang telah dibawa orang lain. Ketika mereka mengetahui bahwa orang itu bukan that the one as they wish, mereka hanya bisa menangis, nulis blog sambil dengerin lagu Raisa, menangis, nulis blog sambil dengerin lagu Raisa, dan seterusnya. Sudah, begitu saja siklusnya sampai Raisa tidak memproduksi lagu lagi.

Menurut saya, tidak mudah bagi kita untuk mengatakan, 'He is the one." "Wah, dia udah menjadi my number one di kehidupan saya,". Semacam masuk kuliah, ada requirements tersendiri untuk menentukannya. 

Karena kita tidak semurah itu untuk mengatakan "You're the one for me" kepada orang lain yang (ternyata) tidak pantas, dan kemudian berakhir dengan menyedihkan. Tidak. Bukan ending seperti itu yang kita inginkan, kan?

Soon, we'll deeply say to someone that they're our number one. Tidak usah terburu-buru, atau hanya iri karena teman-teman sepermainan sepertinya sudah menemukan their the one masing masing. Siapa tahu, ternyata mereka juga salah sasaran. Sama seperti kita, yang masih terburu-buru untuk menentukan siapa yang pantas bagi kita.

Waduh.

He's the one; i don't know why i said this. i never think he will be my one. he doesn't give me rose everyday like my 'old' one did. he rarely send me sweet good morning text. he's not that kind of person in relationship goals that everyone post on instagram.

but

when i saw him, when i stand near by him, when i hear his voice through my ear, 

i know he has the same heart beat as i do,

and,

when i stare his eyes, both of his eyes, i've known already, he will, and he is my one


Baik. Saya tahu, memang tidak semudah itu menemukan our number one hanya dengan menatap mata seseorang dalam-dalam. Hanya saja, bila ia adalah our number one, tentu kita tidak usah ragu lagi meski hanya menatap matanya dalam dalam.

Ok guys, good luck on finding our number one!

Monday, January 4

Day Saver

Alina Baraz & Galimatias - Pretty Thoughts (FKJ Remix)


In case you have a bad feeling this morning, this might save your day. Happy listening!

Sunday, January 3

2016 is really here

Hello! I'm excited to welcome 2016! 

Akhirnya, 2016 benar-benar datang. Setiap pergantian tahun, saya selalu merasa bahwa time goes fast. Secepat itu, sampai rasanya minblown sendiri. Hehehe. Tapi yasudah, hal itu memang benar-benar terjadi.

2016, tidak ada lagi new year, new me. Sepertinya saya akan tetap menjadi Khansa Saffana yang seperti ini, dan mungkin dengan beberapa perbaikan agar orang-orang di sekitar saya nyaman berada di dekat saya dan saya sendiri bisa nyaman menjadi diri saya.

Ah sudahlah, sepertinya hal itu tidak perlu dibahas. 

Liburan pergantian tahun saya habiskan di Bali bersama sepupu-sepupu serta om dan tante dari Jakarta. I spent this holiday by going to beach, beach, and beach. Yes, because it's Bali, tentu semua akan selalu tentang pantai. Oh, dan tidak lupa menjajal beberapa kuliner terkenal disana. I had a very great time there. I definitely will come back to Bali, because we will never get enough of Bali :)





Last but not least, happy new year!