Tuesday, December 29

Drama Korea Nowadays

Halo. Selamat pukul 08.57 PM bagian Semarang.

Saya baru saja menonton sembilan episode drama korea yang cukup ramai, berjudul 'She Was Pretty'. Yah, info barusan sebenarnya tidak penting. 

Yang ingin saya sampaikan adalah: mengapa drama korea terkesan begitu indah dan berisi relationship goals yang diidam-idamkan banyak orang akhir-akhir ini?

Hidup tidak seindah drama korea. Pulang kerja langsung diajak minum soju sama teman sekantor, mabuk, diantar pulang sama teman sekantor, diurus sampai tidur, besoknya bertemu dengan teman sekantor itu dan tiba-tiba mereka berdua sudah jatuh cinta. Duh, simpel sekali ya alur percintaan drama korea.

Hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Boro-boro, mau jatuh cinta, yang disini saja pulang kuliah isinya bingung mau rapat atau langsung pulang saja untuk mengerjakan tugas-tugas yang deadline nya berbarengan. Ya memang beda sih ya, di drama korea pemainnya sudah kerja, yang disini PA 1 saja barusan kelar. Mau buat rumah tinggal saja bingung setengah mati. Banyak revisi. Dosen banyak mau. Apalagi tugas bukan hanya PA 1. Masih banyak tugas-tugas lain yang (sekali lagi) deadline nya berbarengan. 

Ehm. Sepertinya mulai out of topic.

Hanya di drama korea, pemeran utama wanita yang katanya buruk rupa (buruk rupa darimana? seburuk-buruknya rupa si pemeran utama drama korea, masih buruk rupa wajah saya. Buruk rupanya pemeran utama wanita di drama korea, ia masih langsing, pipi merah merona, dan bibir pink) mencintai pemeran utama lelaki yang tampan setengah mati, tajir tujuh turunan, mobil mewah, jabatan tinggi, dan digilai banyak wanita. Namun, si lelaki masih memandang si wanita, dan lama-lama, entah bagaimana, mulai mencintai si wanita apa adanya.

Wow. Beautiful story. I'd like to cri.

Lama-lama, saya gemes dengan drama korea yang ada. Bukan gemes karena apa. SAYA GEMES KARENA IRI. Duh. Bisa tidak ya, drama-drama tersebut terjadi juga pada saya? Saya yang buruk rupa, menyukai seorang lelaki yang populer, namun ia bisa menerima saya yang buruk rupa dan tidak terpandang dengan apa adanya. Berakhir happy ending. Yay.

Udah gila sih saya sepertinya.

Saya mah apa atuh.

Hahahaha.

Kok random ya.

Yasudahlah ya. Met malem.

Thursday, December 24

-

\

This person makes me excited, too excited and my chest feels like gonna burst.

This person makes me warm.

and happy.

This person doesn't need to try too hard, to cheer me.

\


Tuesday, December 22

2015's College Life

Semester tiga akhirnya sudah berakhir! Sayangnya meski sudah berakhir, saya belum bisa 100% berlibur dengan tenang dikarenakan nilai yang belum keluar semua. Jadi masih ada tanggungan deg-degan dengan IP semester ini.

So far, semester tiga kali ini went well, dan melelahkan. Serius, ternyata semester 1 dan semester 2 kemarin tuh bisa dibilang semester yang chicken abis, kayak, ga ada apa-apanya dibanding semester tiga. Dan yakin banget, semester 4,5,6,7,8 akan lebih lebih melelahkan dibanding ini. Huh. 

Takut juga, ya.

Dan untuk menutup semester tiga, angkatan 2014 mengadakan makrab ena' yang bertujuan untuk mengakrabkan satu sama lain. Kesel. Ternyata mereka lebih menyenangkan dan lebih gesrek ketimbang dua semester yang lalu. Apakah ini efek tugas yang gila? Hahaha. Mungkin angkatan terlalu formal untuk disebut. Saya sendiri tidak tahu kosakata apa yang pantas menggambarkan posisi mereka dalam kehidupan saya karena angkatan saja menurut saya tidak menggambarkan posisi mereka seutuhnya. Keluarga? Duh. So oenjoe.

Batch 2014
Selain makran angkatan, pun saya dan departemen sosial mengadakan farewell kecil-kecilan karena mas mba yang sudah tua (hahaha) sudah harus fokus dengan semester akhirnya. Sedih. Meskipun terdiri dari tiga angkatan, namun disini tidak ada sama sekali gap yang membedakan angkatan satu dengan angkatan lainnya, which is, menyenangkan sekali mengingat saya berasal dari SMA yang sangat senioritas dan menciptakan gap antar angkatan yang sangat kentara sekali. 

Departemen Sosial(ita) HMA 15
Mungkin hikmah dibalik saya (harus) masuk jurusan ini sudah terlihat sedikit mulai sedikit. Bertemu dengan orang yang menyenangkan, pengalaman yang tidak bisa dijelaskan. Semua kembali ke tentang rasa, ya kan?





Tuesday, December 15

2015

Siapa yang mengira bahwa 2015 akan berakhir secepat yang saya rasa.
Dalam 15 hari lagi, 2015 akan pergi. Tidak diduga bahwa 2015 akan meninggalkan banyak kesan berharga dan menyenangkan, sekaligus ada kesan menyebalkan menyempil di tengah-tengah. Tapi saya tidak peduli; yang saya pedulikan di 2015 ini adalah, saya mendapatkan banyak hal yang harus dijadikan notes dan refleksi diri.

2015; adalah tahun dimana saya harus belajar skala prioritas. Memang sih, di tahun sebelumnya pun saya sudah mempelajari itu, namun skala prioritas di tahun 2015 sungguh membuat saya bingung. Apa yang harus saya prioritaskan? Tugaskah? Organisasi? Keluarga? Teman-teman? Kebutuhan pribadi? Mengingat saya adalah orang yang cukup egois dan ketergantungan, seringkali saya mementingkan kebutuhan pribadi yang berdampak pada rasa puas dan senang dalam diri. Haduh, hal-hal yang seperti itu rasanya harus dikurangi.

2015; adalah tahun dimana saya harus belajar apa itu sesungguhnya keikhlasan. Ikhlas? Dalam hal apa? Apapun. Disaat saya harus melepaskan apa yang benar-benar saya inginkan, di tahun ini saya harus melepaskan itu lagi, meskipun di tahun 2014 saya sudah melepaskannya. 2015 adalah kesempatan terakhir saya, dan saya tidak mendapatkannya. Seingin itu, to? Iya. Seingin itu hingga saat mengerti bahwa tak ada lagi kesempatan bagi saya, saya sedih. Sebenarnya banyak sih, kesempatan. Tapi apakah waktu akan mengizinkan? Apakah Allah akan memberikan? Tidak tahu. Yah, apa salahnya untuk mengikhlaskan dimulai dari sekarang?

2015; adalah tahun dimana saya harus lebih bisa jujur. Kepada siapa? Kepada diri sendiri, terutama. Banyak sekali kebohongan yang saya pikirkan hanya untuk menyenangkan dan menenangkan diri sendiri. Serta, banyak sekali hal yang saya lakukan hanya untuk memberikan impresi yang bagus kepada orang lain, dan hal ini termasuk kebohongan besar yang saya lakukan demi pride diri sendiri. Saya tidak tahu, bahwa menjada pride adalah sebuah keburukan atau tidak, namun karena terlalu ingin menjaga pride, seringkali saya malah berbohong pada diri sendiri. Hal seperti ini, yang membuat saya lelah dan harus selalu memasang topeng. Exhausting.

Masih banyak hal yang saya pelajari di tahun 2015. Tiga paragraf di atas hanyalah permulaan. Masih ada 15 hari lagi hingga 2015 berakhir; Can I make it well?