Friday, November 27

Random Things I Have At Night

Rasanya aneh untuk merefleksikan apa yang telah terjadi di kehidupan kita bertahun-tahun yang lalu dan menyadari bahwa hal itu sudah terjadi lama sekali.

Kenapa waktu berjalan begitu cepat, ya? Okay. Ini pertanyaan standar yang seringkali dilontarkan orang.

Beberapa pekan yang lalu, saya bertemu dengan guru smp saya dan kebetulan guru smp saya pun juga menjadi guru smp adik saya. Ketika bertemu, guru saya tampak begitu kaget (saya pun kaget mengapa beliau kaget. aneh), dan berkata, 'Eh, Nduk! Sudah lama, ya, tidak bertemu. Sudah kelas berapa kamu?'

Ketika saya menjawab bahwa saya sudah menjadi mahasiswa semester tiga, beliau berkata, 'Walah, wes gede yo jebule!' Okay bu. Kemudian, wanita di sebelah beliau bertanya siapa saya, tampaknya ia guru baru, dan guru saya tersebut bilang bahwa saya adalah muridnya enam tahun lalu.

Atau mungkin sekarang tujuh kalau dihitung. 

Sudah lama sekali saya menjadi siswa SMP. Sudah lama sekali. Ketika guru saya mengatakan hal seperti itu, saya justru lebih kaget. Jadi saya sudah meninggalkan SMP sejak tujuh tahun yang lalu? Ternyata sudah selama itu saya lulus dari bangku SMP.

Begitu cepat waktu bergulir membuat saya justru takut untuk menghadapinya. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya selalu memiliki prinsip bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah hal yang keren. Saya menganggap, mahasiswa adalah orang dewasa. Kini saya seorang mahasiswa, dan ternyata saya telah menjadi orang dewasa dan keren, sesuai dengan prinsip yang saya buat ketika masih duduk di bangku SMP. Hahaha. Pada kenyataannya, saya tidak dewasa, dan saya tidak keren.

Kapan saya menjadi orang dewasa, ya?

Bahkan teman-teman saya sudah ada yang menikah dan memiliki anak. Saya tidak tahu, apakah mereka yang menikah terlalu muda atau saya yang masih kekanak-kanakan? Sepertinya option kedua lebih cocok. 

Ternyata menjadi seorang mahasiswa tidak bisa mengindikasikan bahwa saya adalah orang dewasa. Rasanya saya ingin bilang ke Khansa SMP bahwa, 'Seorang mahasiswa bukan berarti ia telah dewasa dan keren'. Duh, kenapa waktu itu saya berpikir bahwa mahasiswa itu keren.

Ya, bergulirnya waktu dengan cepat membuat saya takut. Saya takut, tiba-tiba saya telah lulus dari bangku kuliah dan mendapat gelar S.T (atau S.Ars) dan saya tidak siap untuk menjadi orang dewasa seutuhnya yang memiliki tanggung jawab penuh akan hidupnya. Saya tidak sesiap itu. Saya takut untuk menghadapi kenyataan bahwa sekitar dua sampai tiga tahun lagi saya akan menjadi orang yang harus memikul tanggung jawab sendiri, mencari pekerjaan sendiri, mulai menyusun life plan, mau menjadi apakah aku ini, mau bekerja apa, mau tinggal dimana, apakah bersama orang tua terus atau saya akan mencari pekerjaan di luar kota Semarang?

Ah, pusingnya.

Selama ini saya tidak pernah pusing memikirkan masa depan. Saya tidak pernah segelisah ini. Apalagi dari kecil hingga umur 19 tahun ini saya selalu tinggal di Semarang, tidak pernah merantau. Tidak seperti kakak saya yang memilih kuliah di luar kota, saya memilih kuliah di Semarang dan tidak ngekos. Saya tidak memiliki pengalaman hidup sendiri.

Tiba-tiba menyesal mengapa dulu saya tidak mendaftar kuliah di luar kota. Eh lupa, daftar tapi gak lolos.

Semoga Khansa di masa depan tidak mengecewakan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.


No comments:

Post a Comment