Monday, November 30

I Love Writing, Sometimes.

Hi, everyone!

Entah kenapa, sekarang saya lebih suka menulis, padahal banyak deadline berserakan. Apalagi untuk minggu depan, saya memiliki dua deadline, yaitu mata kuliah Perancangan Arsitektur 1 dan Struktur dan Konstruksi 3 (dan masing-masingnya paling tidak berisi berbelas-belas gambar). 

Menulis membuat saya lebih nyaman, karena saya lebih bisa mengutarakan apa yang sebenarnya saya rasakan (dan saya pernah bilang) bahwa saya bukan orang yang bisa dengan mudah share feelings. Sayangnya, saya bukan orang yang seperti itu. Namun anehnya, people around me are thinking that I share feelings easily, thinking that I'm that extrovert. Mereka terlalu cepat untuk mengutarakan bahwa saya extrovert. Saya tidak suka sesungguhnya. Hehe.

Kemudian, 

Menulis membuat saya lebih lega. Menulis membuka mata saya, bahwa, sesungguhnya hal yang saya hadapai bukan hal yang berat, kok. Seringkali saya merasa sedih dan tidak semangat karena banyak hal yang harus saya hadapi, dan saya utarakan di blog ini. Sebenarnya, beberapa hari kemudian pasti mengecek blog saya dan membaca ulang apa saja hal yang saya hadapi. Dan, seringkali saya berpikir bahwa, "Ya ampun ternyata saya berlebihan juga ya, menceritakan apa-apa saja yang terjadi belakangan ini." Ketika orang sedang lelah dan sedih, mereka merasa menjadi orang yang paling merana di bumi. Bukan lebay, kok. Teman-teman saya pun setuju dengan hal ini. Ketika saya membaca ulang tulisan yang telah saya buat beberapa hari sebelumnya, saya akan merasa bahwa hal yang saya hadapi tidak terlalu berat, dan menjadi bahan evaluasi saya kedepan. Sepenting itu. Sekrusial itu.

Terkadang, tulisan justru lebih didengar daripada suara yang telah kita coba untuk keluarkan. Seperti halnya keadaan yang lebih bisa terbaca daripada tulisan yang telah kita susun.

Selamat malam. Selamat mengerjakan tugas-tugas yang berserakan.

Friday, November 27

Random Things I Have At Night

Rasanya aneh untuk merefleksikan apa yang telah terjadi di kehidupan kita bertahun-tahun yang lalu dan menyadari bahwa hal itu sudah terjadi lama sekali.

Kenapa waktu berjalan begitu cepat, ya? Okay. Ini pertanyaan standar yang seringkali dilontarkan orang.

Beberapa pekan yang lalu, saya bertemu dengan guru smp saya dan kebetulan guru smp saya pun juga menjadi guru smp adik saya. Ketika bertemu, guru saya tampak begitu kaget (saya pun kaget mengapa beliau kaget. aneh), dan berkata, 'Eh, Nduk! Sudah lama, ya, tidak bertemu. Sudah kelas berapa kamu?'

Ketika saya menjawab bahwa saya sudah menjadi mahasiswa semester tiga, beliau berkata, 'Walah, wes gede yo jebule!' Okay bu. Kemudian, wanita di sebelah beliau bertanya siapa saya, tampaknya ia guru baru, dan guru saya tersebut bilang bahwa saya adalah muridnya enam tahun lalu.

Atau mungkin sekarang tujuh kalau dihitung. 

Sudah lama sekali saya menjadi siswa SMP. Sudah lama sekali. Ketika guru saya mengatakan hal seperti itu, saya justru lebih kaget. Jadi saya sudah meninggalkan SMP sejak tujuh tahun yang lalu? Ternyata sudah selama itu saya lulus dari bangku SMP.

Begitu cepat waktu bergulir membuat saya justru takut untuk menghadapinya. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya selalu memiliki prinsip bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah hal yang keren. Saya menganggap, mahasiswa adalah orang dewasa. Kini saya seorang mahasiswa, dan ternyata saya telah menjadi orang dewasa dan keren, sesuai dengan prinsip yang saya buat ketika masih duduk di bangku SMP. Hahaha. Pada kenyataannya, saya tidak dewasa, dan saya tidak keren.

Kapan saya menjadi orang dewasa, ya?

Bahkan teman-teman saya sudah ada yang menikah dan memiliki anak. Saya tidak tahu, apakah mereka yang menikah terlalu muda atau saya yang masih kekanak-kanakan? Sepertinya option kedua lebih cocok. 

Ternyata menjadi seorang mahasiswa tidak bisa mengindikasikan bahwa saya adalah orang dewasa. Rasanya saya ingin bilang ke Khansa SMP bahwa, 'Seorang mahasiswa bukan berarti ia telah dewasa dan keren'. Duh, kenapa waktu itu saya berpikir bahwa mahasiswa itu keren.

Ya, bergulirnya waktu dengan cepat membuat saya takut. Saya takut, tiba-tiba saya telah lulus dari bangku kuliah dan mendapat gelar S.T (atau S.Ars) dan saya tidak siap untuk menjadi orang dewasa seutuhnya yang memiliki tanggung jawab penuh akan hidupnya. Saya tidak sesiap itu. Saya takut untuk menghadapi kenyataan bahwa sekitar dua sampai tiga tahun lagi saya akan menjadi orang yang harus memikul tanggung jawab sendiri, mencari pekerjaan sendiri, mulai menyusun life plan, mau menjadi apakah aku ini, mau bekerja apa, mau tinggal dimana, apakah bersama orang tua terus atau saya akan mencari pekerjaan di luar kota Semarang?

Ah, pusingnya.

Selama ini saya tidak pernah pusing memikirkan masa depan. Saya tidak pernah segelisah ini. Apalagi dari kecil hingga umur 19 tahun ini saya selalu tinggal di Semarang, tidak pernah merantau. Tidak seperti kakak saya yang memilih kuliah di luar kota, saya memilih kuliah di Semarang dan tidak ngekos. Saya tidak memiliki pengalaman hidup sendiri.

Tiba-tiba menyesal mengapa dulu saya tidak mendaftar kuliah di luar kota. Eh lupa, daftar tapi gak lolos.

Semoga Khansa di masa depan tidak mengecewakan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.


Tuesday, November 24

24 November 2015

Sudah terlalu lama tidak menulis hal serius disini. 

Lebih tepatnya, saat ini, blog menjadi online diary untuk saya.

Ya, saya bukan orang yang bisa cerita apapun yang saya rasakan dengan mudahnya, seperti teman-teman saya yang bisa dengan lugasnya bercerita tentang betapa gundahnya mereka. Betapa sedihnya mereka. Betapa lelahnya mereka.

Saya merasakan apa yang mereka rasakan. Toh juga saya terkadang lelah, sedih, atau gundah, atau apapun kosakata yang bisa menggambarkan hal itu (selain galau. Saya benci menggunakan kata galau. Kosakata tersebut menjadi terlalu 'kekanakan' untuk sekarang ini).

Orang-orang terlanjur berpikir bahwa saya adalah orang yang riang. Selalu senang. Bersemangat. Saya menjadi orang yang takut tentang image yang orang-orang sudah letakkan kepada saya, bahwa kenyataannya, saya tidak se-riang itu. Saya tidak se-senang itu. Saya tidak se-bersemangat itu. Kenyataan yang membuat saya benci akan hal itu adalah ketika saya dihadapi oleh orang-orang yang tidak mengerti bahwa, toh, saya bukan orang yang bisa riang sepanjang hidup saya.

Dalam hal ini, mungkin saya membutuhkan orang yang bisa berbagi dan mengerti bahwa, ya ternyata saya adalah orang yang seperti ini. Maaf bila saya menjatuhkan ekspektasi anda terhadap saya. Maaf, bila anda harus menghadapi kenyataan bahwa saya bukan orang yang se-menyenangkan itu.

Mungkin kali ini saya terdengar sangat egois. Memaksa orang lain untuk mengerti. 

Maafkan saya. 

Monday, November 16

people should have a little respect for everything on earth. 
entah perasaan saya saja, atau hal inilah yang sebenarnya sedang terjadi di bumi ini; orang-orang sudah kehilangan rasa 'wajib' menghormati sesama?