Thursday, September 24

Semua orang pernah melakukan kesalahan.
Namun
Tak semua orang akan mengakuinya

Semua orang pernah melakukan kesalahan.
Namun
Tak semua orang akan mencoba memperbaikinya

Semua orang pernah melakukan kesalahan
Namun
Tak semua orang berani mengucap maaf

Tuesday, September 22

Lagi-Lagi tentang 'Cantik'

Women are beauty fighter. 

Banyak perempuan berkorban banyak untuk menjadi cantik. Meskipun banyak pula pihak yang mengatakan bahwa 'The real beauty is from what's inside the heart" tapi menurut saya, itu pun hal yang sangat bullshit. Kita hanya manusia biasa, loh. 100% saya yakin, kita masih menggunakan penampilan sebagai impresi pertama.

Saya tidak heran dengan hal seperti itu. Toh, saya juga memberi impresi kepada orang untuk pertama kali ya dari penampilannya. Menurut saya tidak salah. Kita tidak bisa menebak seperti apa dia sebenarnya. Apakah baik hati, seperti malaikat? Apakah jahat, seperti Voldemort?

Kembali lagi ke awal. Saya pun bukan Tuhan.

Untuk kaum wanita, menjadi cantik itu harus. Saya sudah pernah menulis bahwa persepsi tentang cantik sekarang berkembang begitu menakutkan. Siapa kira bahwa model-model di majalah yang cantik pun bahkan melewati sebuah fase bernama sunting atau edit agar mereka terlihat sempurna? Apakah cantik yang diinginkan pasar begitu rumit?

Sehingga kemudian sebagian dari kaum wanita berupaya untuk tampil indah. Menggunakan banyak bahan kimia untuk menjadi cantik. Make up itu merupakan bahan kimia, loh. Resiko untuk memakai make up sesungguhnya lumayan, bila terlalu sering. Hal itu dikarenakan oleh bahan kimia yang terkandung dalam make up. Namun, ajaibnya make up masih sangat diminati dan sebagian orang bahkan ketergantungan dengan make up.

Saya mungkin salah satu orang yang ketergantungan dengan make up. Tanpa make up, saya terlihat sangat kumal dan menyedihkan... Hahaha. Alis botak. Bibir tidak pink merona seperti kebanyakan orang. Tapi ya, saya terlahir seperti ini. Bersyukur jelas, daripada tidak punya alis dan bibir sama sekali. Dan saya kira wajar untuk menggunakan make up untuk menutupi kekurangan dalam kelebihan yang saya miliki.

Hingga pada akhirnya saya ketergantungan pada make up, dan tidak percaya diri bila keluar rumah tanpa menggunakan apapun di muka saya. Dengan memakai make up saja saya banyak dicela oleh orang-orang di sekitar saya. Katanya, saya tidak natural. Katanya, make up yang saya pakai terlalu menor (padahal cuma pensil alis dan lipstick). Katanya... Katanya...

Haduh. Capek ya, jadi saya. Hahaha. 

Engga ding. 

Nah, memang banyak wanita yang menggunakan make up dan mendapat banyak hujatan oleh orang-orang disekitar mereka. Saya sih, gapapa dihujat. Sudah biasa. Hahaha. Yang saya pikirkan dari hal ini adalah: banyak orang yang tidak mengerti standar kepercayaan diri seseorang. Seperti saya. Saya tidak mengerti standar kepercayaan diri adik saya sendiri. Apakah dia PD dengan dia yang biasa saja, ataukah dia PD dengan memakai bedak, liptint, dll.

Kita tidak tahu apakah satu kalimat, "Ih warna lipstick kamu terang banget dah." sebenarnya cukup nohok bagi orang yang menggunakannya, loh. Memang sih, maksudnya mengingatkan. Mungkin memang warna terang tidak cocok di wajah dia. Mungkin... Mungkin...

Tapi kalau memang warna itu yang dapat membuat ia merasa percaya diri?

Sekali lagi, kita tidak tahu standar kepercayaan diri seseorang lainnya. 

Bila memang tidak cocok, ya cukup ingatkan dengan baik. 

"Kayaknya kamu lebih cocok pakai warna lembut deh."

Bukankah dengan memberi saran justru lebih nyaman didengar?

Saya begitu terkesan dengan video di bawah ini. Semoga teman-teman bisa meresapi, seberapa pentingkah kecantikan bagi seorang wanita.

Dan kami hanya butuh dihargai.



Friday, September 4

Where's the Good in Good Bye?

saya selalu menyalakan musik untuk menemani saya selama perjalanan dari kampus menuju rumah yang (padahal) hanya menyita waktu 15 menit. tiba-tiba dari speaker, terdengar sebaris lirik lagu yang kira-kira berbunyi seperti ini:

'where's the good in good bye?'

sebenarnya bukan hanya itu saja konten dari lagu tersebut. ya kalian pasti tahulah, lagu apa yang saya maksud. termasuk musisi favorite saya juga, sih.

hmm. where's the good in good bye. sejenak, saya membenarkan hal itu. mana bagusnya sih mengucapkan selamat tinggal? bukankah itu hal yang tidak baik?

selamat tinggal itu menyedihkan, menurut beberapa orang yang mengalaminya. banyak hal yang harus saya lepaskan, namun kata orang lain life must go on. meskipun sedih, saya harus tetap menjalaninya. 

he.
kayak ada yang harus dilepaskan saja. 

memang ada. banyak hal yang harus saya ikhlaskan dan saya sudah sering ungkapkan di site ini. melepaskan tidak melulu soal cinta, meskipun hal itu salah satunya, namun semua orang rasa-rasanya pernah setidaknya satu kali dalam hidupnya untuk melepaskan.

melepaskan barang yang hilang, melepaskan orang yang disayang (untuk bersama yang lain, aihmate), melepaskan jurusan yang sudah diimpi-impikan (aihmate), dan lain sebagainya.
melepaskan itu sakit. gilew bro.

tapi kita sadar gak sih, bahwa rasa sakit karena melepaskan itu hanya sementara? ketika kita kehilangan sesuatu, paling lama kita sedih mungkin seminggu dua minggu. atau setahun. mungkin bertahun-tahun itu kita sedih, namun tidak secara terus menerus. 

selalu ada pelajaran dari melepaskan. sesuatu yang bisa kita dapatkan agar kita bisa menerapkannya di kemudian hari. atau, ada hal yang bisa kita petik dari sana namun sayangnya kita adalah manusia yang tidak peka dan egois sehingga kita hanya bisa sedih, sedih, dan sedih.
hmm.

tidak selamanya melepaskan itu sedih.
ketika kita mempertahankan terlalu lama, bisa jadi itu justru menjadi hal yang menyakitkan namun kita tidak sadar.

bila waktu itu saya tidak kehilangan tas berisi hp, ipod, dompet dll, mungkin sampai sekarang saya akan mejadi orang yang tidak pandai bersyukur.

bila waktu itu saya tidak dengan sengaja melepaskan (hem) nya, mungkin sampai sekarang saya tidak mengerti bahwa ia bisa membuat saya lebih sedih dari waktu itu.

bila waktu itu saya lolos di jurusan itu, mungkin saja saya tidak bertemu teman-teman yang menyenangkan dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan pula di jurusan saya sekarang.

entah sudah berapa kehilangan yang saya alami, memang menyedihkan, tapi akan selalu ada pelangi setelah hujan.

yah... semua hal memang ada plus dan minus. kembali lagi ke diri kita sendiri, apakah kita mampu untuk melihat dunia tidak hanya dari satu sudut pandang saja?

i guess i can find where the good in good bye is.