Monday, August 31

Silahkan membenci, tidak ada yang melanggar kecuali Tuhan Yang Maha Esa. 
Silahkan membenci, jika itu adalah satu-satunya cara agar membuatmu nyaman. 
Silahkan membenci, bila kau temukan alasannya mengapa.
Silahkan membenci, bila hanya dengan melakukannya kau akan bahagia.

Namun tak ada orang yang membenci hidup dengan bahagia. Di dalam otaknya, muncul 1001 ide untuk balas dendam. Setiap detak jantungnya berpacu dengan rasa marah, menimbulkan rasa tidak nyaman dan sedikit depresi yang semakin lama menumpuk menjadi bukit.

Namun tak ada orang yang membenci akan merasa nyaman, karena ia akan selalu mencari alasan untuk membenci, hidupnya yang tenang menjadi terganggu dengan sibuknya ia mencari dan mencari kesalahan agar orang-orang yang lain pun ikut membenci orang yang ia benci. 

Membenci, hanya simbol dari rasa tidak nyaman akan perbuatan orang lain. Wajar, kita tidak hidup untuk memberi impresi yang bagus untuk orang lain, dan rasa tidak nyaman bisa jadi timbul. Tapi, apa salahnya untuk menjadi baik, karena dibenci dan membenci akan hanya menguras energi.

Saya, orang yang terkadang membenci dan dibenci. Susah bagi saya untuk nyaman dengan orang lain, dikarenakan sifat alami saya yang selektif dengan lawan bicara. Susah bagi saya untuk dicinta, karena saya sadar, saya bukan malaikat.

Cukup menguras energi, selama ini, bagi saya untuk membenci dan dibenci. Namun saya berusaha biasa saja dan berusaha hidup untuk membahagiakan orang lain dan menjadi bahagia.

Terkadang rasa benci yang timbul dari dalam diri saya adalah implementasi dari rasa kecewa dan tidak puas. Kecewa, 70%.

Terkadang saya kecewa dengan beberapa sikap dari salah satu teman kepada saya, yang kadang saya tidak tahu alasannya. Tapi saya tidak bisa memaksakan kehendak dia untuk menjadi orang yang saya minta, bahkan disini posisi saya adalah saya tidak memberi dia uang atau bahkan pangan, sandang, dan papan. Ya, siapa saya?

Saya pun bukan orang hebat yang pantas diapresiasi.

Disini timbul rasa benci dari diri saya yang mungkin saya tidak tahu apakah saya bisa mengkontrolnya atau tidak. Dia, adalah orang yang menurut saya mungkin dicintai banyak orang. Saya terpaksa menggunakan kata mungkin, karena saya tidak yakin dengan hal itu. 

Saya pun mungkin tidak banyak dicintai oleh orang lain.

Saya tidak menuntut banyak, cukup bersikap biasa saja bila di depan saya. 
Saya tidak menuntut banyak, cukup cairkan suasana dingin bila kita berada di suatu tempat.

Karena di satu titik saya merasa tidak nyaman. 
Karena ketidak-nyamanan itu cukup membuat saya menyayangkan hal itu, mengingat saya mencintai lingkungan saya. 
Apakah saya harus membenci lingkungan saya juga hanya karena perlakuan tidak menyenangkan yang menyulut rasa kecewa dan benci saya.

Membenci, sangat tidak nyaman.
Silahkan membenci saya, namun jangan perlihatkan itu dan bersikap biasa saja. Hanya membenci saya saja.

Sunday, August 30

Selama dua minggu kemarin, saya terlalu fokus dengan rasa sedih yang saya hadapi, sehingga lupa dengan satu hal penting dan saya merasa kurang bersyukur dengan apa yang Tuhan telah beri kepada saya.

Nikmat keluarga, dan teman. Dua komponen penting yang bahkan saya lupakan karena terlalu sedih, padahal mereka selalu dan senantiasa menemani saya. Huhu. Menye.

Thanks to God, saya mempunyai teman yang bahkan saya tidak perlu menjelaskan bahwa saya sedih, mereka langsung mengerti dan menghibur saya. Hehe. Senang. Entah berapa lama sih saya sedih, keesokan harinya teman-teman saya langsung datang dan menghibur saya dengan cara tersirat. Mereka mengajak saya pergi dan tidak terkurung di rumah seharian karena mereka tahu kalau saya hanya di rumah saja maka yang terjadi adalah saya akan selalu sedih, sedih, dan sedih. Hahaha. 

I'm shooooo glad to have them, really. I couldn't ask for better friends.

Saturday, August 22

notes with a very pathetic story and unreleased tears, cuh.

I have to admit that people have their own dark side.
Mine is:

I worry about everything. Ini agak melelahkan, tapi saya tidak bisa mengelak bahwa saya adalah orang yang terlalu mencemaskan banyak hal, dan ini menyebabkan mood swing yang lumayan menyebalkan. Seperti sekarang ini.

I think too much about what will happen in my future. Ini agak meresahkan. Setiap malam mungkin, saya memikirkan hal itu dan takut. Saya takut menjadi orang dewasa. Karena nantinya, saya harus 'berdiri sendiri' dan tidak bisa ketergantungan lagi. I have to decide everything all by my self. I have to decide where I will work, where I'll live, with who, and and and so on. 

I just, cant. I don't think I'm ready. Ya memang belum saatnya, at least saya harus menyicil banyak hal yang harus dilakukan orang dewasa. Tiga hal yang bisa saya lakukan hanya: 1. Menyetir, 2. Punya KTP, 3. Punya SIM. Is that pathetic? Three of those things are close with adult. 

Dan, entah kenapa sekarang saya pun tidak bisa mudah bergaul dengan orang lain. Tidak semudah dulu, seperti, ada dinding tinggi yang membatasi saya dengan dunia di luar sana. Saya pikir, wajar, karena saya baru saja berada di lingkungan baru. Namun satu tahun telah berlalu, pikiran ini tidak bisa hilang. 

Kenapa?

Selain pencemas, sometimes I'm insecure with my own self. Sekarang ini saya tengah berjuang di antara manusia-manusia pintar di kampus dan sedihnya, mereka adalah teman sekaligus saingan. Ya, se insecure itu saya dengan teman-teman yang lain. Beside, terkadang saya minder dengan fisik. Haduh. Ini udah agak berbahaya, hahaha. Terakhir kali saya insecure dengan fisik adalah empat tahun lalu saat saya duduk di bangku kelas 10, itu sangat amat desperate dan menyedihkan sekali. Like, really. Jijik sih kalau ingat, karena it was too cheesy. 

Lah sekarang saya ngerasain lagi, berarti saya sekarang masih cheesy. Entah, saya minder. Atau saya terlalu takut. 

Mungkin saya hanya terlalu takut.


Please cheer me up just like the old day.

Thursday, August 20

Purpose of Life

Menurut saya, "Life purpose is to be happy."

Banyak teman mengatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk menjadi sukses, dan sukses yang mereka idamkan adalah selalu terkait dengan banyaknya materiil yg mereka dapat.

Lalu, apakah parameter kesuksesan hanya dapat diukur dari harta benda? Bila kau sukses namun kamu sana bahkan tidak bisa menikmati harta bendamu dengan bahagia, apakah masih bisa disebut sukses?

Ya, maka dari itu saya simpulkan bahwa tujuan hidup adalah untuk menjadi bahagia...

Dan banyak hal-hal kecil yang dapat menciptakan kebahagiaan.

Mendapat nilai bagus, saya bahagia.

Berkumpul dengan teman dekat, saya bahagia.

Melihat orang tua senang, saya bahagia.

Dekat dengan saudara, saya bahagia.

Makan shihlin original saja saya bahagia.

Ya maksudnya...

Menjadi bahagia itu tidak sulit, ya kan? Ya, bahagia itu sederhana. Boleh menjadi seseorang yang ambisius dalam mengejar kesempurnaan. Boleh. Siapa yang melarang? Tapi mengejar kesempurnaan tidak akan pernah ada habisnya.

Kita semua tahu bahwa kesempurnaan adalah milik Allah SWT. Bukan klise, bukan.

Saya harus menjadi bahagia, dan saya akan mencari kebahagiaan saya sendiri.



Andai Dia Tahu


Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Tuhan yakinkan dia 'tuk jatuh cinta hanya untukku.

Andai dia tahu.

------------------------------------------------------

Ya kali ah.

Monday, August 17

I REALLY AM MAD

Sekarang ini, saya agak merasa lelah dan kurang nyaman di lingkungan saya. Pada awalnya, saya biasa aja, hingga akhirnya muncul satu orang yang saking ngeselinnya sampai mempengaruhi rasa kenyamanan di lingkungan ini. Sering sih saya merasa tidak dewasa, kok bisa ya, gara-gara satu orang saja rasanya hidup saya is totally disturbed. Sengeselin itu, loh.

Ya Allah, maafkan hambaMu yang cuma bisa ngedumel dalam hati (dan dengan teman-teman saya). Selama ini, selalu ada orang yang ngeselin lewat dan sliweran di kehidupan saya, dan saya  selalu bisa mengatasinya sendiri. Tidak perlu sampai mengadu pada teman-teman saya dan meminta saran mereka apa yang harus saya lakukan. Biasanya mereka akan saya biarkan, get your life

YA ALLAH TAPI KALI INI GAK BISAAAAA.

Astagfirullah.

Dan saya harus bertemu dengan dia sampai akhir perkuliahan nanti, like, really? This is tough. Hahaha. Agak lebay sih memang… Mungkin kalau kamu-kamu mengerti tentang sebenarnya apa sih yang terjadi, mungkin kamu-kamu akan merasakan hal yang sama dengan saya.

E tapi ga boleh. Ngomongin kejelekan orang itu dosa. Heu.
Eh tapi ini post ngomongin kejelekan orang juga, ya? Yasudahlah. Maafkan saya.

Saturday, August 15

Malam Minggu isn't a Problem

sekarang, orang-orang mulai lebih banyak menggunakan instant messaging 'line' sebagai pegangan sehari-hari. walaupun masih ada whatsapp dan bbm, namun mayoritas orang di sekitar saya masih menggunakan line dari masa kejayaannya dua tahun lalu.
makin kesini, aplikasi ini semakin canggih. orang-orang mulai menggunakan 'line' bukan hanya sebagai instant messaging, tapi juga social media, dikarenakan ia memiliki fitur menulis atau mengunggah foto di feed. jadi, kita bebas berekspresi dan melihat ekspresi orang lain pula dalam bentuk foto, tulisan, video, dan lain-lain.
nah.
inti dari post kali ini adalah;
one day, saya melihat post tentang 'bahaya stereotype' yang beredar di masyarakat. ehm.
ada beberapa hal yang saya tidak suka dan kian tumbuh di lingkungan ini. contoh: tidak pergi malam minggu-an itu menyedihkan, pathetic, menunjukkan kesendirian, tidak punya pasangan, ya initnya menyedihkan. awalnya, saya pikir ini hanya guyonan saja, tapi lama-lama annoying, kan?
do you feel the same thing with me? #carimassa
awalnya pun saya menggunakan hal itu sebagai candaan biasa untuk mengejek teman-teman saya. lama-lama, banyak orang tidak bersyukur yang menggunakan alasan ini sebagai 'bahan curhatan' di timeline.
i was like
really? tidak pergi malam minggu-an adalah masalah terbesarmu saat ini?
stereotip di masyarakat bahwa tidak pergi malam minggu adalah hal buruk adalah hal yang paling menyedihkan sejagad raya. hah. persetan.
masih banyak contoh stereotype yang tai di masyarakat, tapi hal itu yang paling mengganggu saya. bukan, bukan karena saya tersindir, tapi karena banyaknya umat manusia yang sering complain bahwa malam minggunya hanya dihabiskan dengan tidur di rumah dengan alasan jomblo. 
astagfirullahaladzim, bantu hambaMu untuk menjadi kuat.
i don't know again, menjadi jomblo pun juga dibully.
hadeh.
help me, pelase, people.

Wednesday, August 12

apakah kamu pernah merasakan di posisi terjepit? 
bukan terjepit di antara dua benda. tapi terjepit di antara dua posisi.
ya boleh lah untuk merasa agak bimbang. 
sebetulnya, bimbang dan agak sedih untuk berada di posisi ini. 
lalu ujung-ujungnya saya cuman bisa menyesal. teruuus menyesali hal yang telah saya perbuat selama beberapa bulan yang lalu.
mungkin kamu dan kamu pernah membaca penyesalan saya tahun lalu yang tidak bisa lolos ke pilihan pertama di admission universitas negeri. yaelah, kayak punya banyak pembaca aja.
haha.
hm, itu terjadi lagi. di tahun kedua, saya gagal lagi. sebetulnya saya pun tidak mau merasa sedih atau menyesal, karena selama setahun ini saya berusaha untuk 'betah' dan 'bahagia' di tempat saya berada. ya saya emang senang, betah, dan…. entahlah, intinya saya senang berada di jurusan ini. cukup mengikuti passion, meskipun di beberapa matkul saya agak 'ketakutan' dikarenakan saya yang tidak menguasai bidang tersebut (yak, struktur dan konstruksi, my biggest fear). 
yang saya takutkan adalah, apakah dengan menggeluti bidang ini, nantinya hanya saya yang akan bahagia? 
maksudnya waktu kamu suka sama seseorang gitu nantinya orang tua kamu ga setuju, ya yang bahagia hanya kamu. gitu deh intinya. huehue, maaf saya sukanya nyambungin sama yang begitu-begitu.
tapi ini dalam kasus jurusan sih.
setelah satu tahun berlalu, keadaan masih belum berubah. saya kira, saya sudah membuang rasa bersalah itu jauh-jauh.
ternyata belum. 
mendapatkaan kata 'maaf' dari website admission salah satu universitas saja cukup membuat saya menangis. dan, saya tidak tahu mengapa saya menangis. padahal sudah delapan kali saya tidak lolos dalam admission ke sekolah (ya taulah sekolah yang saya maksud. masa gatau, kalo gatau berarti kamu kamu bukan teman saya). kegagalan saya yang kedelapan, gatau kenapa, membuat saya sedih.
apakah saya sedih karena saya gagal? atau saya menangis karena merasa bersalah?
yah. sedih lagi kan sekarang…
itulah posisi saya sekarang. bingung. sebetulnya saya masih punya satu kali kesempatan di tahun 2016. tapi di tahun itu, umur saya sudah 20 tahun.
cukup tua untuk mahasiswa semester satu.
disaat teman saya yang lain sudah berbangga memakai toga dan bekerja di tempat yang necis, saya masih berkutat di semester lima dan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan studi tepat waktu.
belum lagi harus ini dan itu setelah menggapai gelar sarjana.
namun bila saya tetap di tempat ini, mungkin saya akan diikuti rasa bersalah.
emang kamu sendiri ingin bidang apa untuk digeluti?
saya sendiri selalu menyalahkan diri sendiri karena saya terlalu fleksibel untuk berada di semua bidang. aelah. gaya. dengan kata lain: saya sendiri tidak tahu passion sendiri.
i need to go to orang yang bisa membantu untuk menemukan apa sebenarnya passion saya.