Tuesday, December 29

Drama Korea Nowadays

Halo. Selamat pukul 08.57 PM bagian Semarang.

Saya baru saja menonton sembilan episode drama korea yang cukup ramai, berjudul 'She Was Pretty'. Yah, info barusan sebenarnya tidak penting. 

Yang ingin saya sampaikan adalah: mengapa drama korea terkesan begitu indah dan berisi relationship goals yang diidam-idamkan banyak orang akhir-akhir ini?

Hidup tidak seindah drama korea. Pulang kerja langsung diajak minum soju sama teman sekantor, mabuk, diantar pulang sama teman sekantor, diurus sampai tidur, besoknya bertemu dengan teman sekantor itu dan tiba-tiba mereka berdua sudah jatuh cinta. Duh, simpel sekali ya alur percintaan drama korea.

Hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Boro-boro, mau jatuh cinta, yang disini saja pulang kuliah isinya bingung mau rapat atau langsung pulang saja untuk mengerjakan tugas-tugas yang deadline nya berbarengan. Ya memang beda sih ya, di drama korea pemainnya sudah kerja, yang disini PA 1 saja barusan kelar. Mau buat rumah tinggal saja bingung setengah mati. Banyak revisi. Dosen banyak mau. Apalagi tugas bukan hanya PA 1. Masih banyak tugas-tugas lain yang (sekali lagi) deadline nya berbarengan. 

Ehm. Sepertinya mulai out of topic.

Hanya di drama korea, pemeran utama wanita yang katanya buruk rupa (buruk rupa darimana? seburuk-buruknya rupa si pemeran utama drama korea, masih buruk rupa wajah saya. Buruk rupanya pemeran utama wanita di drama korea, ia masih langsing, pipi merah merona, dan bibir pink) mencintai pemeran utama lelaki yang tampan setengah mati, tajir tujuh turunan, mobil mewah, jabatan tinggi, dan digilai banyak wanita. Namun, si lelaki masih memandang si wanita, dan lama-lama, entah bagaimana, mulai mencintai si wanita apa adanya.

Wow. Beautiful story. I'd like to cri.

Lama-lama, saya gemes dengan drama korea yang ada. Bukan gemes karena apa. SAYA GEMES KARENA IRI. Duh. Bisa tidak ya, drama-drama tersebut terjadi juga pada saya? Saya yang buruk rupa, menyukai seorang lelaki yang populer, namun ia bisa menerima saya yang buruk rupa dan tidak terpandang dengan apa adanya. Berakhir happy ending. Yay.

Udah gila sih saya sepertinya.

Saya mah apa atuh.

Hahahaha.

Kok random ya.

Yasudahlah ya. Met malem.

Thursday, December 24

-

\

This person makes me excited, too excited and my chest feels like gonna burst.

This person makes me warm.

and happy.

This person doesn't need to try too hard, to cheer me.

\


Tuesday, December 22

2015's College Life

Semester tiga akhirnya sudah berakhir! Sayangnya meski sudah berakhir, saya belum bisa 100% berlibur dengan tenang dikarenakan nilai yang belum keluar semua. Jadi masih ada tanggungan deg-degan dengan IP semester ini.

So far, semester tiga kali ini went well, dan melelahkan. Serius, ternyata semester 1 dan semester 2 kemarin tuh bisa dibilang semester yang chicken abis, kayak, ga ada apa-apanya dibanding semester tiga. Dan yakin banget, semester 4,5,6,7,8 akan lebih lebih melelahkan dibanding ini. Huh. 

Takut juga, ya.

Dan untuk menutup semester tiga, angkatan 2014 mengadakan makrab ena' yang bertujuan untuk mengakrabkan satu sama lain. Kesel. Ternyata mereka lebih menyenangkan dan lebih gesrek ketimbang dua semester yang lalu. Apakah ini efek tugas yang gila? Hahaha. Mungkin angkatan terlalu formal untuk disebut. Saya sendiri tidak tahu kosakata apa yang pantas menggambarkan posisi mereka dalam kehidupan saya karena angkatan saja menurut saya tidak menggambarkan posisi mereka seutuhnya. Keluarga? Duh. So oenjoe.

Batch 2014
Selain makran angkatan, pun saya dan departemen sosial mengadakan farewell kecil-kecilan karena mas mba yang sudah tua (hahaha) sudah harus fokus dengan semester akhirnya. Sedih. Meskipun terdiri dari tiga angkatan, namun disini tidak ada sama sekali gap yang membedakan angkatan satu dengan angkatan lainnya, which is, menyenangkan sekali mengingat saya berasal dari SMA yang sangat senioritas dan menciptakan gap antar angkatan yang sangat kentara sekali. 

Departemen Sosial(ita) HMA 15
Mungkin hikmah dibalik saya (harus) masuk jurusan ini sudah terlihat sedikit mulai sedikit. Bertemu dengan orang yang menyenangkan, pengalaman yang tidak bisa dijelaskan. Semua kembali ke tentang rasa, ya kan?





Tuesday, December 15

2015

Siapa yang mengira bahwa 2015 akan berakhir secepat yang saya rasa.
Dalam 15 hari lagi, 2015 akan pergi. Tidak diduga bahwa 2015 akan meninggalkan banyak kesan berharga dan menyenangkan, sekaligus ada kesan menyebalkan menyempil di tengah-tengah. Tapi saya tidak peduli; yang saya pedulikan di 2015 ini adalah, saya mendapatkan banyak hal yang harus dijadikan notes dan refleksi diri.

2015; adalah tahun dimana saya harus belajar skala prioritas. Memang sih, di tahun sebelumnya pun saya sudah mempelajari itu, namun skala prioritas di tahun 2015 sungguh membuat saya bingung. Apa yang harus saya prioritaskan? Tugaskah? Organisasi? Keluarga? Teman-teman? Kebutuhan pribadi? Mengingat saya adalah orang yang cukup egois dan ketergantungan, seringkali saya mementingkan kebutuhan pribadi yang berdampak pada rasa puas dan senang dalam diri. Haduh, hal-hal yang seperti itu rasanya harus dikurangi.

2015; adalah tahun dimana saya harus belajar apa itu sesungguhnya keikhlasan. Ikhlas? Dalam hal apa? Apapun. Disaat saya harus melepaskan apa yang benar-benar saya inginkan, di tahun ini saya harus melepaskan itu lagi, meskipun di tahun 2014 saya sudah melepaskannya. 2015 adalah kesempatan terakhir saya, dan saya tidak mendapatkannya. Seingin itu, to? Iya. Seingin itu hingga saat mengerti bahwa tak ada lagi kesempatan bagi saya, saya sedih. Sebenarnya banyak sih, kesempatan. Tapi apakah waktu akan mengizinkan? Apakah Allah akan memberikan? Tidak tahu. Yah, apa salahnya untuk mengikhlaskan dimulai dari sekarang?

2015; adalah tahun dimana saya harus lebih bisa jujur. Kepada siapa? Kepada diri sendiri, terutama. Banyak sekali kebohongan yang saya pikirkan hanya untuk menyenangkan dan menenangkan diri sendiri. Serta, banyak sekali hal yang saya lakukan hanya untuk memberikan impresi yang bagus kepada orang lain, dan hal ini termasuk kebohongan besar yang saya lakukan demi pride diri sendiri. Saya tidak tahu, bahwa menjada pride adalah sebuah keburukan atau tidak, namun karena terlalu ingin menjaga pride, seringkali saya malah berbohong pada diri sendiri. Hal seperti ini, yang membuat saya lelah dan harus selalu memasang topeng. Exhausting.

Masih banyak hal yang saya pelajari di tahun 2015. Tiga paragraf di atas hanyalah permulaan. Masih ada 15 hari lagi hingga 2015 berakhir; Can I make it well?

Monday, November 30

I Love Writing, Sometimes.

Hi, everyone!

Entah kenapa, sekarang saya lebih suka menulis, padahal banyak deadline berserakan. Apalagi untuk minggu depan, saya memiliki dua deadline, yaitu mata kuliah Perancangan Arsitektur 1 dan Struktur dan Konstruksi 3 (dan masing-masingnya paling tidak berisi berbelas-belas gambar). 

Menulis membuat saya lebih nyaman, karena saya lebih bisa mengutarakan apa yang sebenarnya saya rasakan (dan saya pernah bilang) bahwa saya bukan orang yang bisa dengan mudah share feelings. Sayangnya, saya bukan orang yang seperti itu. Namun anehnya, people around me are thinking that I share feelings easily, thinking that I'm that extrovert. Mereka terlalu cepat untuk mengutarakan bahwa saya extrovert. Saya tidak suka sesungguhnya. Hehe.

Kemudian, 

Menulis membuat saya lebih lega. Menulis membuka mata saya, bahwa, sesungguhnya hal yang saya hadapai bukan hal yang berat, kok. Seringkali saya merasa sedih dan tidak semangat karena banyak hal yang harus saya hadapi, dan saya utarakan di blog ini. Sebenarnya, beberapa hari kemudian pasti mengecek blog saya dan membaca ulang apa saja hal yang saya hadapi. Dan, seringkali saya berpikir bahwa, "Ya ampun ternyata saya berlebihan juga ya, menceritakan apa-apa saja yang terjadi belakangan ini." Ketika orang sedang lelah dan sedih, mereka merasa menjadi orang yang paling merana di bumi. Bukan lebay, kok. Teman-teman saya pun setuju dengan hal ini. Ketika saya membaca ulang tulisan yang telah saya buat beberapa hari sebelumnya, saya akan merasa bahwa hal yang saya hadapi tidak terlalu berat, dan menjadi bahan evaluasi saya kedepan. Sepenting itu. Sekrusial itu.

Terkadang, tulisan justru lebih didengar daripada suara yang telah kita coba untuk keluarkan. Seperti halnya keadaan yang lebih bisa terbaca daripada tulisan yang telah kita susun.

Selamat malam. Selamat mengerjakan tugas-tugas yang berserakan.

Friday, November 27

Random Things I Have At Night

Rasanya aneh untuk merefleksikan apa yang telah terjadi di kehidupan kita bertahun-tahun yang lalu dan menyadari bahwa hal itu sudah terjadi lama sekali.

Kenapa waktu berjalan begitu cepat, ya? Okay. Ini pertanyaan standar yang seringkali dilontarkan orang.

Beberapa pekan yang lalu, saya bertemu dengan guru smp saya dan kebetulan guru smp saya pun juga menjadi guru smp adik saya. Ketika bertemu, guru saya tampak begitu kaget (saya pun kaget mengapa beliau kaget. aneh), dan berkata, 'Eh, Nduk! Sudah lama, ya, tidak bertemu. Sudah kelas berapa kamu?'

Ketika saya menjawab bahwa saya sudah menjadi mahasiswa semester tiga, beliau berkata, 'Walah, wes gede yo jebule!' Okay bu. Kemudian, wanita di sebelah beliau bertanya siapa saya, tampaknya ia guru baru, dan guru saya tersebut bilang bahwa saya adalah muridnya enam tahun lalu.

Atau mungkin sekarang tujuh kalau dihitung. 

Sudah lama sekali saya menjadi siswa SMP. Sudah lama sekali. Ketika guru saya mengatakan hal seperti itu, saya justru lebih kaget. Jadi saya sudah meninggalkan SMP sejak tujuh tahun yang lalu? Ternyata sudah selama itu saya lulus dari bangku SMP.

Begitu cepat waktu bergulir membuat saya justru takut untuk menghadapinya. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya selalu memiliki prinsip bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah hal yang keren. Saya menganggap, mahasiswa adalah orang dewasa. Kini saya seorang mahasiswa, dan ternyata saya telah menjadi orang dewasa dan keren, sesuai dengan prinsip yang saya buat ketika masih duduk di bangku SMP. Hahaha. Pada kenyataannya, saya tidak dewasa, dan saya tidak keren.

Kapan saya menjadi orang dewasa, ya?

Bahkan teman-teman saya sudah ada yang menikah dan memiliki anak. Saya tidak tahu, apakah mereka yang menikah terlalu muda atau saya yang masih kekanak-kanakan? Sepertinya option kedua lebih cocok. 

Ternyata menjadi seorang mahasiswa tidak bisa mengindikasikan bahwa saya adalah orang dewasa. Rasanya saya ingin bilang ke Khansa SMP bahwa, 'Seorang mahasiswa bukan berarti ia telah dewasa dan keren'. Duh, kenapa waktu itu saya berpikir bahwa mahasiswa itu keren.

Ya, bergulirnya waktu dengan cepat membuat saya takut. Saya takut, tiba-tiba saya telah lulus dari bangku kuliah dan mendapat gelar S.T (atau S.Ars) dan saya tidak siap untuk menjadi orang dewasa seutuhnya yang memiliki tanggung jawab penuh akan hidupnya. Saya tidak sesiap itu. Saya takut untuk menghadapi kenyataan bahwa sekitar dua sampai tiga tahun lagi saya akan menjadi orang yang harus memikul tanggung jawab sendiri, mencari pekerjaan sendiri, mulai menyusun life plan, mau menjadi apakah aku ini, mau bekerja apa, mau tinggal dimana, apakah bersama orang tua terus atau saya akan mencari pekerjaan di luar kota Semarang?

Ah, pusingnya.

Selama ini saya tidak pernah pusing memikirkan masa depan. Saya tidak pernah segelisah ini. Apalagi dari kecil hingga umur 19 tahun ini saya selalu tinggal di Semarang, tidak pernah merantau. Tidak seperti kakak saya yang memilih kuliah di luar kota, saya memilih kuliah di Semarang dan tidak ngekos. Saya tidak memiliki pengalaman hidup sendiri.

Tiba-tiba menyesal mengapa dulu saya tidak mendaftar kuliah di luar kota. Eh lupa, daftar tapi gak lolos.

Semoga Khansa di masa depan tidak mengecewakan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.


Tuesday, November 24

24 November 2015

Sudah terlalu lama tidak menulis hal serius disini. 

Lebih tepatnya, saat ini, blog menjadi online diary untuk saya.

Ya, saya bukan orang yang bisa cerita apapun yang saya rasakan dengan mudahnya, seperti teman-teman saya yang bisa dengan lugasnya bercerita tentang betapa gundahnya mereka. Betapa sedihnya mereka. Betapa lelahnya mereka.

Saya merasakan apa yang mereka rasakan. Toh juga saya terkadang lelah, sedih, atau gundah, atau apapun kosakata yang bisa menggambarkan hal itu (selain galau. Saya benci menggunakan kata galau. Kosakata tersebut menjadi terlalu 'kekanakan' untuk sekarang ini).

Orang-orang terlanjur berpikir bahwa saya adalah orang yang riang. Selalu senang. Bersemangat. Saya menjadi orang yang takut tentang image yang orang-orang sudah letakkan kepada saya, bahwa kenyataannya, saya tidak se-riang itu. Saya tidak se-senang itu. Saya tidak se-bersemangat itu. Kenyataan yang membuat saya benci akan hal itu adalah ketika saya dihadapi oleh orang-orang yang tidak mengerti bahwa, toh, saya bukan orang yang bisa riang sepanjang hidup saya.

Dalam hal ini, mungkin saya membutuhkan orang yang bisa berbagi dan mengerti bahwa, ya ternyata saya adalah orang yang seperti ini. Maaf bila saya menjatuhkan ekspektasi anda terhadap saya. Maaf, bila anda harus menghadapi kenyataan bahwa saya bukan orang yang se-menyenangkan itu.

Mungkin kali ini saya terdengar sangat egois. Memaksa orang lain untuk mengerti. 

Maafkan saya. 

Monday, November 16

people should have a little respect for everything on earth. 
entah perasaan saya saja, atau hal inilah yang sebenarnya sedang terjadi di bumi ini; orang-orang sudah kehilangan rasa 'wajib' menghormati sesama? 

Saturday, October 24

-

waking up from a nap - then suddenly miss somebody you've never wish it'd be.

Thursday, September 24

Semua orang pernah melakukan kesalahan.
Namun
Tak semua orang akan mengakuinya

Semua orang pernah melakukan kesalahan.
Namun
Tak semua orang akan mencoba memperbaikinya

Semua orang pernah melakukan kesalahan
Namun
Tak semua orang berani mengucap maaf

Tuesday, September 22

Lagi-Lagi tentang 'Cantik'

Women are beauty fighter. 

Banyak perempuan berkorban banyak untuk menjadi cantik. Meskipun banyak pula pihak yang mengatakan bahwa 'The real beauty is from what's inside the heart" tapi menurut saya, itu pun hal yang sangat bullshit. Kita hanya manusia biasa, loh. 100% saya yakin, kita masih menggunakan penampilan sebagai impresi pertama.

Saya tidak heran dengan hal seperti itu. Toh, saya juga memberi impresi kepada orang untuk pertama kali ya dari penampilannya. Menurut saya tidak salah. Kita tidak bisa menebak seperti apa dia sebenarnya. Apakah baik hati, seperti malaikat? Apakah jahat, seperti Voldemort?

Kembali lagi ke awal. Saya pun bukan Tuhan.

Untuk kaum wanita, menjadi cantik itu harus. Saya sudah pernah menulis bahwa persepsi tentang cantik sekarang berkembang begitu menakutkan. Siapa kira bahwa model-model di majalah yang cantik pun bahkan melewati sebuah fase bernama sunting atau edit agar mereka terlihat sempurna? Apakah cantik yang diinginkan pasar begitu rumit?

Sehingga kemudian sebagian dari kaum wanita berupaya untuk tampil indah. Menggunakan banyak bahan kimia untuk menjadi cantik. Make up itu merupakan bahan kimia, loh. Resiko untuk memakai make up sesungguhnya lumayan, bila terlalu sering. Hal itu dikarenakan oleh bahan kimia yang terkandung dalam make up. Namun, ajaibnya make up masih sangat diminati dan sebagian orang bahkan ketergantungan dengan make up.

Saya mungkin salah satu orang yang ketergantungan dengan make up. Tanpa make up, saya terlihat sangat kumal dan menyedihkan... Hahaha. Alis botak. Bibir tidak pink merona seperti kebanyakan orang. Tapi ya, saya terlahir seperti ini. Bersyukur jelas, daripada tidak punya alis dan bibir sama sekali. Dan saya kira wajar untuk menggunakan make up untuk menutupi kekurangan dalam kelebihan yang saya miliki.

Hingga pada akhirnya saya ketergantungan pada make up, dan tidak percaya diri bila keluar rumah tanpa menggunakan apapun di muka saya. Dengan memakai make up saja saya banyak dicela oleh orang-orang di sekitar saya. Katanya, saya tidak natural. Katanya, make up yang saya pakai terlalu menor (padahal cuma pensil alis dan lipstick). Katanya... Katanya...

Haduh. Capek ya, jadi saya. Hahaha. 

Engga ding. 

Nah, memang banyak wanita yang menggunakan make up dan mendapat banyak hujatan oleh orang-orang disekitar mereka. Saya sih, gapapa dihujat. Sudah biasa. Hahaha. Yang saya pikirkan dari hal ini adalah: banyak orang yang tidak mengerti standar kepercayaan diri seseorang. Seperti saya. Saya tidak mengerti standar kepercayaan diri adik saya sendiri. Apakah dia PD dengan dia yang biasa saja, ataukah dia PD dengan memakai bedak, liptint, dll.

Kita tidak tahu apakah satu kalimat, "Ih warna lipstick kamu terang banget dah." sebenarnya cukup nohok bagi orang yang menggunakannya, loh. Memang sih, maksudnya mengingatkan. Mungkin memang warna terang tidak cocok di wajah dia. Mungkin... Mungkin...

Tapi kalau memang warna itu yang dapat membuat ia merasa percaya diri?

Sekali lagi, kita tidak tahu standar kepercayaan diri seseorang lainnya. 

Bila memang tidak cocok, ya cukup ingatkan dengan baik. 

"Kayaknya kamu lebih cocok pakai warna lembut deh."

Bukankah dengan memberi saran justru lebih nyaman didengar?

Saya begitu terkesan dengan video di bawah ini. Semoga teman-teman bisa meresapi, seberapa pentingkah kecantikan bagi seorang wanita.

Dan kami hanya butuh dihargai.



Friday, September 4

Where's the Good in Good Bye?

saya selalu menyalakan musik untuk menemani saya selama perjalanan dari kampus menuju rumah yang (padahal) hanya menyita waktu 15 menit. tiba-tiba dari speaker, terdengar sebaris lirik lagu yang kira-kira berbunyi seperti ini:

'where's the good in good bye?'

sebenarnya bukan hanya itu saja konten dari lagu tersebut. ya kalian pasti tahulah, lagu apa yang saya maksud. termasuk musisi favorite saya juga, sih.

hmm. where's the good in good bye. sejenak, saya membenarkan hal itu. mana bagusnya sih mengucapkan selamat tinggal? bukankah itu hal yang tidak baik?

selamat tinggal itu menyedihkan, menurut beberapa orang yang mengalaminya. banyak hal yang harus saya lepaskan, namun kata orang lain life must go on. meskipun sedih, saya harus tetap menjalaninya. 

he.
kayak ada yang harus dilepaskan saja. 

memang ada. banyak hal yang harus saya ikhlaskan dan saya sudah sering ungkapkan di site ini. melepaskan tidak melulu soal cinta, meskipun hal itu salah satunya, namun semua orang rasa-rasanya pernah setidaknya satu kali dalam hidupnya untuk melepaskan.

melepaskan barang yang hilang, melepaskan orang yang disayang (untuk bersama yang lain, aihmate), melepaskan jurusan yang sudah diimpi-impikan (aihmate), dan lain sebagainya.
melepaskan itu sakit. gilew bro.

tapi kita sadar gak sih, bahwa rasa sakit karena melepaskan itu hanya sementara? ketika kita kehilangan sesuatu, paling lama kita sedih mungkin seminggu dua minggu. atau setahun. mungkin bertahun-tahun itu kita sedih, namun tidak secara terus menerus. 

selalu ada pelajaran dari melepaskan. sesuatu yang bisa kita dapatkan agar kita bisa menerapkannya di kemudian hari. atau, ada hal yang bisa kita petik dari sana namun sayangnya kita adalah manusia yang tidak peka dan egois sehingga kita hanya bisa sedih, sedih, dan sedih.
hmm.

tidak selamanya melepaskan itu sedih.
ketika kita mempertahankan terlalu lama, bisa jadi itu justru menjadi hal yang menyakitkan namun kita tidak sadar.

bila waktu itu saya tidak kehilangan tas berisi hp, ipod, dompet dll, mungkin sampai sekarang saya akan mejadi orang yang tidak pandai bersyukur.

bila waktu itu saya tidak dengan sengaja melepaskan (hem) nya, mungkin sampai sekarang saya tidak mengerti bahwa ia bisa membuat saya lebih sedih dari waktu itu.

bila waktu itu saya lolos di jurusan itu, mungkin saja saya tidak bertemu teman-teman yang menyenangkan dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan pula di jurusan saya sekarang.

entah sudah berapa kehilangan yang saya alami, memang menyedihkan, tapi akan selalu ada pelangi setelah hujan.

yah... semua hal memang ada plus dan minus. kembali lagi ke diri kita sendiri, apakah kita mampu untuk melihat dunia tidak hanya dari satu sudut pandang saja?

i guess i can find where the good in good bye is.

Monday, August 31

Silahkan membenci, tidak ada yang melanggar kecuali Tuhan Yang Maha Esa. 
Silahkan membenci, jika itu adalah satu-satunya cara agar membuatmu nyaman. 
Silahkan membenci, bila kau temukan alasannya mengapa.
Silahkan membenci, bila hanya dengan melakukannya kau akan bahagia.

Namun tak ada orang yang membenci hidup dengan bahagia. Di dalam otaknya, muncul 1001 ide untuk balas dendam. Setiap detak jantungnya berpacu dengan rasa marah, menimbulkan rasa tidak nyaman dan sedikit depresi yang semakin lama menumpuk menjadi bukit.

Namun tak ada orang yang membenci akan merasa nyaman, karena ia akan selalu mencari alasan untuk membenci, hidupnya yang tenang menjadi terganggu dengan sibuknya ia mencari dan mencari kesalahan agar orang-orang yang lain pun ikut membenci orang yang ia benci. 

Membenci, hanya simbol dari rasa tidak nyaman akan perbuatan orang lain. Wajar, kita tidak hidup untuk memberi impresi yang bagus untuk orang lain, dan rasa tidak nyaman bisa jadi timbul. Tapi, apa salahnya untuk menjadi baik, karena dibenci dan membenci akan hanya menguras energi.

Saya, orang yang terkadang membenci dan dibenci. Susah bagi saya untuk nyaman dengan orang lain, dikarenakan sifat alami saya yang selektif dengan lawan bicara. Susah bagi saya untuk dicinta, karena saya sadar, saya bukan malaikat.

Cukup menguras energi, selama ini, bagi saya untuk membenci dan dibenci. Namun saya berusaha biasa saja dan berusaha hidup untuk membahagiakan orang lain dan menjadi bahagia.

Terkadang rasa benci yang timbul dari dalam diri saya adalah implementasi dari rasa kecewa dan tidak puas. Kecewa, 70%.

Terkadang saya kecewa dengan beberapa sikap dari salah satu teman kepada saya, yang kadang saya tidak tahu alasannya. Tapi saya tidak bisa memaksakan kehendak dia untuk menjadi orang yang saya minta, bahkan disini posisi saya adalah saya tidak memberi dia uang atau bahkan pangan, sandang, dan papan. Ya, siapa saya?

Saya pun bukan orang hebat yang pantas diapresiasi.

Disini timbul rasa benci dari diri saya yang mungkin saya tidak tahu apakah saya bisa mengkontrolnya atau tidak. Dia, adalah orang yang menurut saya mungkin dicintai banyak orang. Saya terpaksa menggunakan kata mungkin, karena saya tidak yakin dengan hal itu. 

Saya pun mungkin tidak banyak dicintai oleh orang lain.

Saya tidak menuntut banyak, cukup bersikap biasa saja bila di depan saya. 
Saya tidak menuntut banyak, cukup cairkan suasana dingin bila kita berada di suatu tempat.

Karena di satu titik saya merasa tidak nyaman. 
Karena ketidak-nyamanan itu cukup membuat saya menyayangkan hal itu, mengingat saya mencintai lingkungan saya. 
Apakah saya harus membenci lingkungan saya juga hanya karena perlakuan tidak menyenangkan yang menyulut rasa kecewa dan benci saya.

Membenci, sangat tidak nyaman.
Silahkan membenci saya, namun jangan perlihatkan itu dan bersikap biasa saja. Hanya membenci saya saja.

Sunday, August 30

Selama dua minggu kemarin, saya terlalu fokus dengan rasa sedih yang saya hadapi, sehingga lupa dengan satu hal penting dan saya merasa kurang bersyukur dengan apa yang Tuhan telah beri kepada saya.

Nikmat keluarga, dan teman. Dua komponen penting yang bahkan saya lupakan karena terlalu sedih, padahal mereka selalu dan senantiasa menemani saya. Huhu. Menye.

Thanks to God, saya mempunyai teman yang bahkan saya tidak perlu menjelaskan bahwa saya sedih, mereka langsung mengerti dan menghibur saya. Hehe. Senang. Entah berapa lama sih saya sedih, keesokan harinya teman-teman saya langsung datang dan menghibur saya dengan cara tersirat. Mereka mengajak saya pergi dan tidak terkurung di rumah seharian karena mereka tahu kalau saya hanya di rumah saja maka yang terjadi adalah saya akan selalu sedih, sedih, dan sedih. Hahaha. 

I'm shooooo glad to have them, really. I couldn't ask for better friends.

Saturday, August 22

notes with a very pathetic story and unreleased tears, cuh.

I have to admit that people have their own dark side.
Mine is:

I worry about everything. Ini agak melelahkan, tapi saya tidak bisa mengelak bahwa saya adalah orang yang terlalu mencemaskan banyak hal, dan ini menyebabkan mood swing yang lumayan menyebalkan. Seperti sekarang ini.

I think too much about what will happen in my future. Ini agak meresahkan. Setiap malam mungkin, saya memikirkan hal itu dan takut. Saya takut menjadi orang dewasa. Karena nantinya, saya harus 'berdiri sendiri' dan tidak bisa ketergantungan lagi. I have to decide everything all by my self. I have to decide where I will work, where I'll live, with who, and and and so on. 

I just, cant. I don't think I'm ready. Ya memang belum saatnya, at least saya harus menyicil banyak hal yang harus dilakukan orang dewasa. Tiga hal yang bisa saya lakukan hanya: 1. Menyetir, 2. Punya KTP, 3. Punya SIM. Is that pathetic? Three of those things are close with adult. 

Dan, entah kenapa sekarang saya pun tidak bisa mudah bergaul dengan orang lain. Tidak semudah dulu, seperti, ada dinding tinggi yang membatasi saya dengan dunia di luar sana. Saya pikir, wajar, karena saya baru saja berada di lingkungan baru. Namun satu tahun telah berlalu, pikiran ini tidak bisa hilang. 

Kenapa?

Selain pencemas, sometimes I'm insecure with my own self. Sekarang ini saya tengah berjuang di antara manusia-manusia pintar di kampus dan sedihnya, mereka adalah teman sekaligus saingan. Ya, se insecure itu saya dengan teman-teman yang lain. Beside, terkadang saya minder dengan fisik. Haduh. Ini udah agak berbahaya, hahaha. Terakhir kali saya insecure dengan fisik adalah empat tahun lalu saat saya duduk di bangku kelas 10, itu sangat amat desperate dan menyedihkan sekali. Like, really. Jijik sih kalau ingat, karena it was too cheesy. 

Lah sekarang saya ngerasain lagi, berarti saya sekarang masih cheesy. Entah, saya minder. Atau saya terlalu takut. 

Mungkin saya hanya terlalu takut.


Please cheer me up just like the old day.

Thursday, August 20

Purpose of Life

Menurut saya, "Life purpose is to be happy."

Banyak teman mengatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk menjadi sukses, dan sukses yang mereka idamkan adalah selalu terkait dengan banyaknya materiil yg mereka dapat.

Lalu, apakah parameter kesuksesan hanya dapat diukur dari harta benda? Bila kau sukses namun kamu sana bahkan tidak bisa menikmati harta bendamu dengan bahagia, apakah masih bisa disebut sukses?

Ya, maka dari itu saya simpulkan bahwa tujuan hidup adalah untuk menjadi bahagia...

Dan banyak hal-hal kecil yang dapat menciptakan kebahagiaan.

Mendapat nilai bagus, saya bahagia.

Berkumpul dengan teman dekat, saya bahagia.

Melihat orang tua senang, saya bahagia.

Dekat dengan saudara, saya bahagia.

Makan shihlin original saja saya bahagia.

Ya maksudnya...

Menjadi bahagia itu tidak sulit, ya kan? Ya, bahagia itu sederhana. Boleh menjadi seseorang yang ambisius dalam mengejar kesempurnaan. Boleh. Siapa yang melarang? Tapi mengejar kesempurnaan tidak akan pernah ada habisnya.

Kita semua tahu bahwa kesempurnaan adalah milik Allah SWT. Bukan klise, bukan.

Saya harus menjadi bahagia, dan saya akan mencari kebahagiaan saya sendiri.



Andai Dia Tahu


Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Tuhan yakinkan dia 'tuk jatuh cinta hanya untukku.

Andai dia tahu.

------------------------------------------------------

Ya kali ah.

Monday, August 17

I REALLY AM MAD

Sekarang ini, saya agak merasa lelah dan kurang nyaman di lingkungan saya. Pada awalnya, saya biasa aja, hingga akhirnya muncul satu orang yang saking ngeselinnya sampai mempengaruhi rasa kenyamanan di lingkungan ini. Sering sih saya merasa tidak dewasa, kok bisa ya, gara-gara satu orang saja rasanya hidup saya is totally disturbed. Sengeselin itu, loh.

Ya Allah, maafkan hambaMu yang cuma bisa ngedumel dalam hati (dan dengan teman-teman saya). Selama ini, selalu ada orang yang ngeselin lewat dan sliweran di kehidupan saya, dan saya  selalu bisa mengatasinya sendiri. Tidak perlu sampai mengadu pada teman-teman saya dan meminta saran mereka apa yang harus saya lakukan. Biasanya mereka akan saya biarkan, get your life

YA ALLAH TAPI KALI INI GAK BISAAAAA.

Astagfirullah.

Dan saya harus bertemu dengan dia sampai akhir perkuliahan nanti, like, really? This is tough. Hahaha. Agak lebay sih memang… Mungkin kalau kamu-kamu mengerti tentang sebenarnya apa sih yang terjadi, mungkin kamu-kamu akan merasakan hal yang sama dengan saya.

E tapi ga boleh. Ngomongin kejelekan orang itu dosa. Heu.
Eh tapi ini post ngomongin kejelekan orang juga, ya? Yasudahlah. Maafkan saya.

Saturday, August 15

Malam Minggu isn't a Problem

sekarang, orang-orang mulai lebih banyak menggunakan instant messaging 'line' sebagai pegangan sehari-hari. walaupun masih ada whatsapp dan bbm, namun mayoritas orang di sekitar saya masih menggunakan line dari masa kejayaannya dua tahun lalu.
makin kesini, aplikasi ini semakin canggih. orang-orang mulai menggunakan 'line' bukan hanya sebagai instant messaging, tapi juga social media, dikarenakan ia memiliki fitur menulis atau mengunggah foto di feed. jadi, kita bebas berekspresi dan melihat ekspresi orang lain pula dalam bentuk foto, tulisan, video, dan lain-lain.
nah.
inti dari post kali ini adalah;
one day, saya melihat post tentang 'bahaya stereotype' yang beredar di masyarakat. ehm.
ada beberapa hal yang saya tidak suka dan kian tumbuh di lingkungan ini. contoh: tidak pergi malam minggu-an itu menyedihkan, pathetic, menunjukkan kesendirian, tidak punya pasangan, ya initnya menyedihkan. awalnya, saya pikir ini hanya guyonan saja, tapi lama-lama annoying, kan?
do you feel the same thing with me? #carimassa
awalnya pun saya menggunakan hal itu sebagai candaan biasa untuk mengejek teman-teman saya. lama-lama, banyak orang tidak bersyukur yang menggunakan alasan ini sebagai 'bahan curhatan' di timeline.
i was like
really? tidak pergi malam minggu-an adalah masalah terbesarmu saat ini?
stereotip di masyarakat bahwa tidak pergi malam minggu adalah hal buruk adalah hal yang paling menyedihkan sejagad raya. hah. persetan.
masih banyak contoh stereotype yang tai di masyarakat, tapi hal itu yang paling mengganggu saya. bukan, bukan karena saya tersindir, tapi karena banyaknya umat manusia yang sering complain bahwa malam minggunya hanya dihabiskan dengan tidur di rumah dengan alasan jomblo. 
astagfirullahaladzim, bantu hambaMu untuk menjadi kuat.
i don't know again, menjadi jomblo pun juga dibully.
hadeh.
help me, pelase, people.

Wednesday, August 12

apakah kamu pernah merasakan di posisi terjepit? 
bukan terjepit di antara dua benda. tapi terjepit di antara dua posisi.
ya boleh lah untuk merasa agak bimbang. 
sebetulnya, bimbang dan agak sedih untuk berada di posisi ini. 
lalu ujung-ujungnya saya cuman bisa menyesal. teruuus menyesali hal yang telah saya perbuat selama beberapa bulan yang lalu.
mungkin kamu dan kamu pernah membaca penyesalan saya tahun lalu yang tidak bisa lolos ke pilihan pertama di admission universitas negeri. yaelah, kayak punya banyak pembaca aja.
haha.
hm, itu terjadi lagi. di tahun kedua, saya gagal lagi. sebetulnya saya pun tidak mau merasa sedih atau menyesal, karena selama setahun ini saya berusaha untuk 'betah' dan 'bahagia' di tempat saya berada. ya saya emang senang, betah, dan…. entahlah, intinya saya senang berada di jurusan ini. cukup mengikuti passion, meskipun di beberapa matkul saya agak 'ketakutan' dikarenakan saya yang tidak menguasai bidang tersebut (yak, struktur dan konstruksi, my biggest fear). 
yang saya takutkan adalah, apakah dengan menggeluti bidang ini, nantinya hanya saya yang akan bahagia? 
maksudnya waktu kamu suka sama seseorang gitu nantinya orang tua kamu ga setuju, ya yang bahagia hanya kamu. gitu deh intinya. huehue, maaf saya sukanya nyambungin sama yang begitu-begitu.
tapi ini dalam kasus jurusan sih.
setelah satu tahun berlalu, keadaan masih belum berubah. saya kira, saya sudah membuang rasa bersalah itu jauh-jauh.
ternyata belum. 
mendapatkaan kata 'maaf' dari website admission salah satu universitas saja cukup membuat saya menangis. dan, saya tidak tahu mengapa saya menangis. padahal sudah delapan kali saya tidak lolos dalam admission ke sekolah (ya taulah sekolah yang saya maksud. masa gatau, kalo gatau berarti kamu kamu bukan teman saya). kegagalan saya yang kedelapan, gatau kenapa, membuat saya sedih.
apakah saya sedih karena saya gagal? atau saya menangis karena merasa bersalah?
yah. sedih lagi kan sekarang…
itulah posisi saya sekarang. bingung. sebetulnya saya masih punya satu kali kesempatan di tahun 2016. tapi di tahun itu, umur saya sudah 20 tahun.
cukup tua untuk mahasiswa semester satu.
disaat teman saya yang lain sudah berbangga memakai toga dan bekerja di tempat yang necis, saya masih berkutat di semester lima dan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan studi tepat waktu.
belum lagi harus ini dan itu setelah menggapai gelar sarjana.
namun bila saya tetap di tempat ini, mungkin saya akan diikuti rasa bersalah.
emang kamu sendiri ingin bidang apa untuk digeluti?
saya sendiri selalu menyalahkan diri sendiri karena saya terlalu fleksibel untuk berada di semua bidang. aelah. gaya. dengan kata lain: saya sendiri tidak tahu passion sendiri.
i need to go to orang yang bisa membantu untuk menemukan apa sebenarnya passion saya.

Friday, June 19

have you ever feel; weird - sad - strange of realising that somebody beside you is supposed to be your only lover but you found it awkward to have some conversations with her/him.


Thursday, May 21

Three Magic Words

saya paling tidak suka
dengan orang yang enggan mengucapkan tiga kata penting dalam menjalin komunikasi
maaf, terima kasih, dan tolong.

percaya atau tidak
tiga kata tersebut menjadi parameter kesopanan dan ke'niat'an seseorang (for me).

coba dibayangin aja
semisal ada teman kita minta tolong (atau menyuruh?) kita:
"eh ambilin penghapus dong."
bandingkan dengan:
"eh tolong ambilin penghapus dong."
berbeda, kan?
terasa lebih friendly yang kedua.
sopan, dan enak aja didenger gitu

atau contoh lain
ketika temen kamu numpahin minum
dan dia bilang
"eh sorryyy ga sengaja". it was like, okay.
dibandingkan dengan
"eh maafin akuu ga sengajaaa."
saya lebih senang mendengar kata maaf daripada sorry. it's all about manner… mengucapkan kata maaf terdengar lebih sopan.

atau contoh yang baru saja terjadi malam ini
teman saya meminta contact seseorang ke saya
saya beri
dan
hanya
di
read.
bukan bermaksud pamrih, tapi, dengan hanya mengucap 'terima kasih' kan cukup menunjukkan bahwa anda mempunyai manner yang sudah diajarkan oleh banyak pihak sejak dini.
terkadang hal simpel seperti itu sering dilupakan orang.

just as reminder aja sih:
orang orang di sekitarmu bukan pajangan doang.

Wednesday, April 15

-

Kalau bisa dibuat simpel, mengapa harus menjalankan yang rumit? 
Bila tak ada masalah, mengapa harus sengaja dibuat masalah agar dikata konteks tersebut mengalami perkembangan?
Semua yang tidak harus menjadi harus, karena manusia harus mengalami perubahan dan pergerakan. Manusia = living things = movement. Bila tak ada pergerakan, manusia bukan living things. Atau bahkan, era ini dibilang berhenti.

Tuesday, April 14

-

Peope will always listen what another people said about themselves. I dont know.... But for me, people's word is life. Saya adalah tipe orang yang akan selalu mendengarkan apa kata orang lain terhadap saya karena impression mereka sebegitu pentingnya loh, buat saya. I live for God, i know that. Tapi di sekitar saya, there are lot of people live here, too, and see what I did. Sebegitu pentingnya kata mereka tentang saya, hingga saya tidak ingin menjadi suatu bahan perbincangan dan beban bagi mereka...
So I'm sorry for taking things too deep :-) That's how I do...

Monday, March 30

Hitam di atas Putih

Hitam dan putih - dua warna yang tidak berwarna -
How could you say these colours are uncoloured while they are.
Semua orang bisa berkata namun tak sesuai kenyataan - atau lebih tepatnya ada sesuatu yang tak terlihat bagi orang umum kecuali bagi dia sendiri.
How could you say that shiloutte is seen, while it isn't
Semua orang dapat mengatakan hal yang sebaliknya, atau memiliki dua persepsi yang menimbulkan perdebatan tak penting namun ganjil.

How could you say you love rain but when it comes to you, you use your umbrella?
How could you say you love wind but when it comes to you, you close your window?
How could you say you love sun but you seek shade when it's shining?
-bob marley-

Terlalu banyak kebohongan setiap individu, made me lost my own trust.
Even my own trust.
To my self.

Thursday, January 29

RANU KUMBOLOOO

Kalau dilihat di instagram dan berbagai jejaring sosial lainnya, menurut saya sih sekarang lagi popular banget explore-explore berbagai tempat yang sebenarnya sudah sering dan biasa dikunjungi, namun terlihat sangat bagus dan membuat kita sebagai si pelihat foto tersebut jadi ingin mengunjunginya. 

Seperti contoh, saya sudah ada planning untuk vacation ke Malang, jadi sebelumnya saya ingin tahu, seperti apa sih kota Malang itu. 

Jadi saya memutuskan untuk stalking account @exploremalang di instagram. 

And…

Holy shit.

I found this.

Ranu Kumbolo. BAGUS BANGET!
Subhanallah ciptaan Tuhan.

Ranu Kumbolo adalah sebuah danau di kaki Gunung Semeru. Yah.. Hahaha langsung patah semangat saya. Karena… Ya. Saya gak kuat muncak.

Tapi gara gara itu saya jadi ingin muncak.

Hm… Trend explore-explore seperti ini bagus sekali untuk kita yang butuh tempat baru.

Gara-gara exploremalang saya jadi pengen, kan, ke Ranu Kumbolo.

Thursday, January 22

I Hope it's Gonna Be Meaningful

Saya memang baru menjadi mahasiswa selama satu semester. Tapi euforianya sudah saya rasakan dari pertama kali saya masuk. Dimulai dari berusaha tidak menyebut 'guru', namun dosen. Tidak salah sebut 'pelajaran', tetapi mata kuliah, dan lain lain. 
And finally, I found this.
Sebuah tamparan dari dosen untuk mahasiswa, katanya.

1. Kamu ingin dapat beasiswa S2 ke luar negeri nanti? Pastikan IP di atas 3 dan TOEFL di atas 500! Merasa tidak pinter? BELAJAR!
2. Empat atau lima tahun lagi kamu bisa sekolah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Itu kalau kamu tidak cuma twitteran saja sampai lulus nanti.
3. Kamu tidak akan bisa S2 di luar negeri karena akan ditolak profesor kalau nulis email formal saja tidak bisa. Alay itu tidak keren, tidak usah bangga!
4. Tidak usah tanya tips cara menghubungi professor di luar negeri kalau kirim email ke dosen sendiri saja kamu belum bisa. Hey, ganti dulu akun niennna_catique@gmail.com itu!
5. Tidak usah ikut meledek Vicky, kamu saja tidak tahu kapan harus pakai tanda tanya, tanda seru, tanda titik, spasi, huruf besar, huruf kecil di email kok!
6. Mana bisa diterima di perusahaan multinasional biarpun IP tinggi kalau nulis email saja lupa salam pembuka dan penutup
7. Sok mengkritik kebijakan UN segala, dari cara menulis email saja kelihatannya kamu tidak lulus Bahasa Indonesia kok. Tidak usah gaya!
8. Bayangkan kalau kamu harus menulis email ke pimpinan sebuah perusahaan besar. Apa gaya bahasa email kamu yang sekarang itu sudah sesuai? Jangan-jangan bosnya tertawa!
9. Apapun bidang ilmu kamu, akhirnya kamu akan berhubungan dg MANUSIA yang beda umur dan latar belakangnya. Belajar komunikasi yang baik. Jangan bangga jadi alay!
10. Bangga bisa software dan gunakan alat-alat canggih? Suatu saat kamu harus yakinkan MANUSIA akan skill itu. Belajar komunikasi dengan bahasa manusia biasa!
11. Kamu orang teknik dan hanya peduli skil teknis? Kamu salah besar! Nanti kamu akan jual skil itu pada MANUSIA, bukan pada mesin!
12. Kamu kira orang teknik hanya ngobrol sama mesin dan alat? Kamu harus yakinkan pengambil kebijakan suatu saat nanti dan mereka itu manusia. Belajar ngomong sama manusia!
13. Malas basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Enam tahun lagi kamu diutus kantor untuk presentasi sama klien yang tidak kamu kenal. Belajar!
14. Malas belajar bikin presentasi? Lima thn lagi bos kamu datang dengan segepok bahan, “saya tunggu file presentasinya besok!”
15. Kamu orang sosial dan malas belajar hal-hal kecil di komputer? Lima tahun lagi bos kamu datang bertanya “cara membesarkan huruf di Ms Word dengan shortcut gimana ya?’ Mau nyengir?
16. Mahasiswa senior, jangan bangga bisa membully Mahasiswa baru, tujuh tahun lagi kamu diinterview sama dia saat pindah kerja ke perusahaan yang lebih bagus
17. Mahasiswa senior, keren rasanya ditakuti Mahasiswa baru? JANGAN! Urusan kalian nanti bersaing sama orang-orang ASEAN dan Dunia. Bisa bikin mereka takut tidak?
18. Bangga bisa demo untuk mengundurkan jadwal ujian karena kamu tidak siap? Kamu itu mahasiswa negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, masa’ urusannya cetek-cetek begitu sih?!
19. Tidak usah lah sok hebat demo nyuruh SBY berani sama Amerika kalau kamu diskusi sama mahasiswa Singapura saja tergagap-gagap
20. Tidak perlu lah teriak-teriak “jangan tergantung pada barat” jika kamu belum bisa tidur kalau tidak ada BB dekat bantal
21. Tentara kita tidak takut sama tentara Malaysia kalau kamu bisa kalahkan mahasiswa Malaysia debat ilmiah dlm forum di Amerika!
22. Tidak perlu beretorika menentang korupsi kalau kamu masih nitip absen sama teman saat demo antikorupsi!
23. Boleh kampanye “jangan tergantung pada barat” tapi jangan kampanye di Twitter, Facebook, BBM, Path dan Email! Memangnya itu buatan Madiun?!
24. Kalau file laporan praktikum masih ngopi dari kakak kelas dan hanya ganti tanggal, tidak usah teriak anti korupsi ya Boss!
25. Minder karena merasa dari kampung, tidak kaya, tidak gaul? Lima tahun lagi kamu bisa S2 di negara maju karena IP, TOEFL dan kemampuan kepemimpinan. Bukan karena kaya dan gaul!
26. Pejabat kadang membuat kebijakan tanpa riset serius. Sama seperti mahasiswa yang membuat tugas dalam semalam hanya modal Wikipedia
27. DPR kadang studi banding untuk jalan-jalan doang. Sama seperti mahasiswa yang tidak serius saat kunjungan ke industri lalu nyontek laporan sama temannya
28. Pejabat kadang menggelapkan uang rakyat. Sama seperti mahasiswa yang melihat bahan di internet lalu disalin di papernya tanpa menyebutkan sumbernya.
29. Alah, pakai mengkritik kebijakan pemerintah segala, bikin paper saja ngopi file dari senior dan ubah judul, pendahuluan sama font-nya
30. Gimana mau membela kedaulatan bangsa kalau waktu menerima kunjungan mahasiswa asing saja kamu tidak bisa ngomong saat diskusi. Mau pakai bambu runcing?
31. Kalau kamu berteriak “jangan mau ditindas oleh asing”, coba buktikan. Ikuti forum ASEAN atau Dunia dan buktikan di situ kamu bisa bersuara dan didengar!

sumber: http://anakunsri.com/inilah-tamparan-dari-dosen-untuk-mahasiswa/

Tuesday, January 20

Semarang Contemporary Art Gallery

semarang art gallery, tempat yang lagi sering sekali dikunjungi dan banyak orang menjadikannya sebagai tempat hunting foto. sayang sekali, menurut saya art gallery ini seharusnya bisa memuat banyak karya seni lagi, dan tidak terbatas hanya lukisan saja. 

but you know, the paintings are all awesome. me and my friends tried hard to know the meaning of the art. 

disini saya mencoba untuk menjadi pengunjung art gallery yang baik. yang tak hanya sekedar mencari background untuk foto yang bagus (which is tujuan awalnya seperti itu). 

karena para artist yang telah berupaya menciptakan seni, pastinya butuh apresiasi.

------

i went there with (ehm, mereka lagi mereka lagi) agri, delia, megy, pipit, chacha, dan duena. we saw sooo many paintings, dan ada satu lukisan tentang existence (yang sudah susah payah kami terjemahkan makna lukisan tsb, tapi tetap… saya tidak tahu itu benar atau tidak, lol) yang menjadi favorite saya, haha! tapi sayangnya saya tidak mengambil foto painting tersebut.

seni harus dihargai.

dan tetap foto

Monday, January 19

Secondhand Serenade

secondhand serenade.

band ini sudah tidak asing lagi, especially to my ears. i used to listen all of their songs since i was in jhs. they made a simple lyrics yet meaningful. melancholic with hard voice. bukan keras musiknya, tetapi kelantangan si vokalis dalam menyanyikan tiap untaian kata…

and i share my favourite song with x.

Wednesday, January 7

Post dibawah sudah menjelaskan tentang bagaimana persepsi orang tentang 'cantik' sudah mendekati menakutkan, menurut saya. Bahkan sudah menakutkan. Saya berpikir bahwa kedepannya, semua perempuan akan 'berbentuk' sama, untuk menjadi cantik. Skinny, white skin, thigh gaps, rambut belah tangah yang terurai panjang dengan sedikit ikal di bagian bawah…

Semua wanita memimpikan itu. 

Apakah sebuah kecantikan hanya datang dari beberapa hal itu? Lalu bagaimana dengan orang yang terlahir dengan dark skin? Orang yang susah diet? Orang yang terlahir bukan seperti itu?

Perempuan akan melakukan segalanya untuk menjadi cantik. Rela membeli make up beratus-ratus ribu untuk menutupi kekurangan dalam mukanya. Berhasil, memang. Make up tersebut dapat membuat banyak perempuan menjadi percaya diri, karena berhasil menutupi kekurangan di mukanya. Bila hidung mereka tidak mancung, cukup shading saja daerah samping hidung. Bila bibir pucar, cukup pakai lipstick, liptint, atau lipcream - dan sebagainya.

But you know what people's type nowadays. Sedetik kemudian banyak pendapat muncul:

"Fake banget lo pake make up."
"Lo cantik, tapi gak natural."

What the…hell?
Banyak perempuan yang sudah berkorban hanya untuk menjadi cantik, dan tidak sedikit pula dari mereka yang menerima cemoohan how fake she is dan semacamnya. Just take a second, deh. When you've tried to be beautiful dan berakhir dengan cemoohan orang di sekitarmu, how does it feel?

I appreciate orang-orang yang mau berusaha. Berusaha belajar make up untuk memperbaiki diri. Saya menghargai orang-orang yang rela diet hanya untuk menjadi skinny and fit the clothes. Saya juga mengappreciate orang yang mencintai diri apa adanya.

I think we just have to appreciate each others, ya kan?
Dan ada baiknya persepsi orang tentang kecantikan perlu diubah.
Bukankah menakutkan bila kemudian all the girls look same, karena mereka mempunyai persepsi yang sama tentang cantik? That's it.
Beauty comes in every way. Kadang kita hanya tidak sadar akan hal itu…

Bahkan model di majalah sudah di photoshop berapa kali agar mencapai 'standar perfect' media :) 

It just…. hurts.

Karena wanita berharga.
Itulah yang harus disadari para wanita.





Our perception about beauty is so wide, and sometimes it turns out to be pathetic. People can be bulimia, anorexic, having an eating disorder because they think: skinny and thigh gaps are the keys of beauty. And i was like, hello?
I'm fat. Like a pig. And i'm okay with that. I don't think fat is ugly. I just think fat is unhealthy.
People's perception about beauty scares me.
Even the models on magazine and billboard are sometimes a product of photoshop. We just don't know that.
People have to start loving their own self.

Tuesday, January 6

Life purpose is to be happy. 
And loved.
Because when you're loved, you're blessed. 
That makes your soul happy, automatically, in some ways.
Loved by people, is one of so many purposes that have been made since so long.
Be kind to people.
So they will love you.
Although people (someday) will hate you
You can answer with:
"At least I have tried to be kind.
People are complicated."