Tuesday, May 6

Ujan Nasional pt 1

ujian nasional memang telah menjadi momok berat bagi siswa tingkat akhir di smp dan sma. ujian yang satu ini memang sudah jadi sebuah 'tantangan' untuk lulus ke jenjang berikutnya. selain itu, ujian nasional juga dijadikan sebagai pandangan, apakah sekolah tsb bagus atau tidak. jadi menurut saya, ketika ujian nasional tiba, yang stress tidak hanya murid saja. namun guru juga ikut stress… dan si pembuat soal pasti sedang tertawa sambil kipas-kipas melihat guru dan siswa di seluruh indonesia stress menanti soal buatan dirinya.

namun di tahun 2014 ini, ujian nasional makin menuai banyak komentar, dan hampir 90% semua komentar tsb adalah komentar miring dan dalam bentuk protes. yap, setelah ditelusuri, ternyata ujian nasional tahun ini berpacu pada PISA (programme of international student assessment), yang mana berarti soal tersebut mengacu pada standar internasional. wow! sounds good. sepertinya si menteri pendidikan ini ingin sekali pendidikan di negara indonesia maju dan setara tingkat internasional.

tapi bodohnya, saking semangatnya si menteri pendidikan menyelenggarakan ujian nasional berstandar internasional, beliau tidak sadar bahwa beliau belum melakukan sosialisasi untuk siswa di indonesia. dan celakanya, guru-guru di sekolah mana pun pasti sudah mempersiapkan murid mereka untuk mengikuti ujian nasional dengan latihan-latihan soal yang mengacu pada UN tahun-tahun sebelumnya.

dan celakanya lagi, mana ada soal-soal internasional di UN tahun sebelumnya? tidak ada.

banyak guru dan bimbel yang optimis bahwa, 'pasti UN tahun ini mirip-miriplah dengan UN tahun lalu.' sehingga mereka dengan semangat mem-fotokopi soal latihan yang mirip-mirip dengan UN tahun lalu. dengan jumlah yang sangat banyak. dan kebanyakan hanya diganti angkanya saja.

dan lebih celakanya lagi, siswa siswi disini, pastinya hanya mengandalkan soal latihan yang diberikan oleh guru dari masing-masing sekolah, atau soal TO dari bimbel, atau download di website edukasi (yang saya lihat, soal mereka tidak jauh beda dengan UN tahun sebelumnya).

sehingga ketika ujian nasional tiba, ketika membaca soal demi soal yang telah tercetak…

nangis dalam hati.

ok, itu saya yang nangis dalam hati.

membaca satu soal yang sulit, jujur, sudah membuat mental saya down terlebih dahulu. mencoba untuk mengerjakan soal yang lain, ternyata sama saja sulitnya. mental yang sudah down tersebut, kembali down lebih jauh lagi. ya, sebagai siswa yang mengandalkan latihan soal dari guru, kumpulan soal yang telah saya beli di sebuah toko buku dengan harga nyaris mencapai seratus ribu, download berpaket-paket soal dari website edukasi, ya saya tentu tidak siap dengan soal semacam itu. i wish it wasn't only me.

memang salah saya, yang tidak belajar lebih dalam lagi. memang, saya mengerti, bahwa ilmu itu sangat luas dan tidak terbatas. 

si menteri pendidikan pun pasti juga akan menyalahkan siswa-siswa indonesia yang protes tiada henti. pasti beliau berpikir, dengan bahagianya, 'yeeeee salah siapa ga belajar? emangnya tiap tahun soal un mau sama aja tipenya? kagak lah yauuu.'

i can't blame anyone.

we can't blame anyone.

but, menteri pendidikan pun tidak bisa menyalahkan kami juga.

belum selesai dengan masalah ujian nasional tingkat SMA-sederajat, muncul kontroversi, ujian nasional tingkat SMP pun memiliki masalah. dengan berisi 5% soal mengacu pada PISA.

and i get contoh soalnya, di twitter. which is… like this:


mari kita hiraukan bahwa si pembuat soal yang dengan sengaja membuat soal yang sama persis dengan PISA. mari kita cermati soalnya.

sebenarnya, itu soal yang 'agak' mudah bila kita dapat sedikit menganalisis. tapi saya berani jamin, ketika adik-adik SMP menemukan soal ini pasti otomatis berpikir, 'lah, soal apa nih? pake rumus apaan? mau pake rumus phytagoras tapi yang diketahui cuma satu sisi doang? ini apa lagi kok ada sudut-sudutnya??' hehe. bismillah, semoga benar. jadi, dari sudutnya terlihat bahwa ada sudut 90 dan 45, jd otomatis sudut yang satu lagi juga 45, karena jumlah sudut dlm segitiga itu 180. karena terdapat dua sudut yang sama, berarti inshaa allah dapat dipastikan segitiga itu sama kaki. nah, kalo sudah sampai sini, inshaa allah sudah dapat mencari panjang tali. eh bener gak sih kayak gini ngerjain soalnya.. -_-

memang agak ribet sih, hanya butuh mengerti konsep dasar dan analisis.

nah, disinilah letak kelemahan siswa disini, termasuk saya. lemah di analisis dan konsep dasar! saya ikut bimbel yang terkenal dengan 'bagaimana mengerjakan soal dengan praktis dan cepat'. memang benar, dengan cara cepat tsb saya bisa mengerjakan soal dengan cepat dan akurat. TAPI, kita tidak tahu konsep dasarnya, sehingga saat kita menemui soal yang butuh analisis seperti ini, kita kelimpungan.

padahal, saya dulu pernah mengerjakan soal ICAS, ya semacam soal internasional juga. tipe soal nya bukan yang, tersedia ini itu, tinggal pakai rumus, done, selesai. bukan seperti itu. kita harus pintar mengkhayal, mengerti konsep dasar, dan da boooommm kita bisa mengerjakan soalnya.

sangat berbeda. indonesia masih jauh dengan kata pendidikan internasional.

dan saya tidak tahu harus menyalahkan siapa, atas hal seperti ini.

sebenarnya saya mau menulis lebih banyak lagi, but, dipotong dulu saja hehe. akan saya lanjutkan besok.

bersambung.
haha.



Monday, May 5

Nanti Kalau Sudah Besar Mau Jadi Apa?

aku ingat betul, saat aku masih sebagai anak TK, my teacher asked me mau jadi apa saat nanti sudah dewasa. saat itu, aku yang masih polos tentu menjawab, "mau jadi dokter, bu guru." dan guruku hanya tersenyum dan menatap anak didiknya dengan puas. 

saat masih kanak-kanak, menjawab cita-cita seakan sudah menjadi pertanyaan sehari-hari dan tidak perlu waktu panjang untuk menjawabnya. tapi rupanya sekarang sudah berubah. menjawab pertanyaan, "emang cita-cita kamu sebenernya apa, sih?" takes forever. it takes forever! yes. i really mean it. 

rasanya, membedakan apa cita-cita saya yang sebenarnya dan cita-cita orang tua terhadap saya sudah cukup susah. aku tidak bisa membedakan, mana yang cita-citaku, dan mana yang cita-cita orang tua. ya, begitu. jadi tidak heran apabila saya masih menjawab, "nggg gatauuu deeeeh." saat ditanya orang-orang apa cita-cita saya.

namun, mengingat keinginan saya waktu TK dulu untuk menjadi dokter…
bukannya benci untuk menjadi dokter. bukannya aku tidak mau. siapa sih, yang tidak mau menjadi dokter? beribu-ribu orang mengejar profesi itu. segala cara ditempuh, demi menjadi dokter. rela bersaing ketat untuk memperebutkan satu kursi fakultas kedokteran, pendidikan dokter. but, i really don't know, what profession will i take soon. 

menjadi dokter, menurut saya adalah sebuah kehormatan. merelakan waktu untuk membantu orang lain. nyawa memang urusan tuhan. namun, dokter seakan ikut mengambil alih apa yang sudah dikehendaki tuhan tsb. aku ingin menjadi salah satu dokter yang diharapkan orang-orang untuk dapat membantu menyembuhkan mereka. aku juga ingin, bekerja di klinik/rumah sakit dan menjadi andalan orang ketika terjadi sesuatu dengan tubuh mereka. tapi yang paling aku inginkan saat ini adalah, melihat orang tua aku, terutama ibu, melihat anaknya memakai jas dokter sama seperti yang beliau kenakan. memiliki profesi yang sama dengan mama, that's happiness. meneruskan profesi mama. 

lagipula, orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya lolos ke jenjang pendidikan dokter?

klise. menurut aku, semua prodi dan fakultas itu membanggakan. 

apapun profesi yang aku ambil nanti, semoga aku suka, dan diridhoi orang tua. halal, dan dapat membawaku menuju gerbang kesuksesan.

sukses ada di tangan aku, ya aku tau.

Friday, May 2

sudah bertahun-tahun berlalu.
you don't miss the people.
you miss the situation.
terkadang, kita salah mengartikan.
when we say 'i miss you', kita tidak selalu mengartikan 'ok i really miss you.'
sometimes, we miss the situation and it feels like we wanna do that again. trapped in the same situation.
banyak, orang mengatakan 'i re-read our conversation when i miss you.'
really? you miss the person or you wanna have a conversation like that again?
atau bahkan, we even fall with another person but you feel like, tidak mungkin untuk memiliki perasaan yg sama with another person like you did in the past.
people are confusing.
people wanna move, quickly, but when they've met 'that' person, people think 'is he/she really the one? pengganti yang tepat?' and dengan sok-tahunya people think 'tidak mungkin menemukan pengganti secepat ini.' pdhl he's totally the right choice.
is it people, or it's just me?
hahahahahahhaa.