Tuesday, May 21

21 Mei 2013

seperti janji yang kami buat tadi malam, kini aku telah duduk di ujung cafe favorite kami. sembari menunggu dia yang selalu mempunyai kebiasaan terlambat 15 menit setelah waktu yang telah disetujui, aku memesan secangkir kopi pahit panas yang sudah menjadi kesukaanku sejak lama. mungkin tidak banyak wanita lain yang menyukai, bahkan menggilai kopi hitam pekat yang terasa pahit ini. entahlah, setiap kebulan hangat dari kopi selalu mengundangku untuk menyeruputnya. teguk demi teguk aku nikmati kopi ini. semua orang disekitarku bahkan bertanya-tanya mengapa aku sangat menyukai kopi ini. tak terkecuali dia. dia berkata bahwa aku mempunyai selera yang aneh.

tak lama kemudian, dia datang. seakan sudah tahu kebiasaanku yang selalu memilih tempat pojok, dia langsung menuju tempat yang aku singgahi. hal ini sangat menguntungkanku, karena aku tak repot lagi untuk memberitahunya kursi mana yang aku cap sebagai hak milik untuk malam ini. 

dia tersenyum padaku, memulai percakapan. sebelum ia berbicara panjang lebar, segera aku menyodorkan buku menu padanya, agar meja kami tidak terlalu sepi. dia tertawa dan menyambut buku menu yang aku sodorkan. pelan aku menatap gerak geriknya dalam hening, dan memperhatikan hal-hal yang melekat pada tubuhnya. polo shirt berwarna biru dongker yang tidak terkancing satu benik. jam tangan kesayannya terpasang rapi. tangannya asyik membolak-balik buku menu. sedetik kemudian ia meletakkan buku menu, dan itu cukup membuatku kaget. segera dia memesan hazelnut coffee. matanya menatapku, semakin membuatku resah kalau saja dia mengerti bahwa aku sedang memperhatikannya begitu dalam. untung saja keresahanku tidak menjadi nyata. ia segera bercerita banyak hal. ia bercerita padaku bahwa tadi pagi ia terpeleset di sekolah dan menjadi bahan tertawaan seisi koridor. ia bercerita bagaimana malunya dia, tapi ia hanya bisa tertawa dan melanjutkan perjalanan menuju kelas sambil tertawa canggung. ia bercerita bagaimana teman-temannya yang lain mengejek ia sepanjang koridor. aku menyambut ceritanya dengan tawa dan menggodanya, namun ia hanya balas tertawa dan mengacak rambutku. tak hanya itu, ia pun kembali bercerita tentang hal-hal yang ia lalui hari ini. aku mendengarkan ceritanya dengan cermat, seperti mendengarkan guru biologiku yang sedang menjelaskan materi.

entah mengapa, aku sangat suka mendengarkan cerita demi cerita yang ia lontarkan. aku sangat menyukai bagaimana ia menggambarkan suatu kondisi dengan tangannya, dan itu membuat ia terlihat seperti anak kecil. kadang aku menahan tawa tiap ia mempraktekan itu, dan pernah sekali ia marah, namun ternyata ia hanya pura-pura marah. menyebalkan memang, ingin aku membalasnya namun aku tidak bisa marah dengannya. bahkan hanya pura-pura marah pun aku tidak bisa.

tidak pernah aku bayangkan bagaimana setiap malamku berlalu tanpa ia. mungkin ini berlebihan, tetapi aku memang tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila aku sedang suntuk mengerjakan tugasku pukul tujuh malam dan tidak ada suatu hal apapun yang bisa menghiburku, lalu ia tidak bisa menjadi sebuah hiburan untukku. jengah sekali.

tak bisa aku bayangkan bila ia pergi.




No comments:

Post a Comment