Saturday, February 23

February Post

Twitter memang sudah menjadi tren dan bagaikan kebutuhan pokok. Sandang, pangan, papan, dan Twitter. Semua orang ber-tweet-ria, sembari melewati hari tanpa merasa terabaikan dan sebagainya. Semua karena twitter. 

Tapi disitulah kebencian demi kebencian terungkap. Rahasia demi rahasia yang sudah menjadi uap kembali mengembun. Semua muncul. Semua terlihat. Sarkasme, tweet tajam, tweet berontak, tweet kejam, tweet menusuk. Itu semua paket lengkap yang dapat kita lihat sehari-hari di twitter.

Saya pada awalnya memanfaatkan twitter untuk tindakan sarkasme agar orang yang saya tidak sukai menyadari sikapnya. Kebiasaan itu bertahan hingga sekarang, tapi Alhamdulillah dengan gaya bahasa yang sudah berevolusi. Sarkasme halus sering saya tulis. Beberapa kali saya sadari bahwa sarkasme tetaplah sarkasme, tapi kebiasaan itu tidak bisa hilang dari saya.

Gawat sekali.

Sering saya menulis sindiran halus agar orang yang telah melakukan kesalahan mengerti. Memang tidak baik, saya tahu.

Semakin lama, banyak akun yang merupakan grup masyarakat terbuat. Akun kelas, akun sekolah, dan akun-akun lainnya. 

Di dunia ini, tak ada orang tanpa masalah. Sebuah grup masyarakat memang terkadang mempunyai masalah internal, maupun eksternal. Dan menurut saya, masalah internal adalah masalah yang seharusnya dapat mereka selesaikan dengan baik TANPA koar-koar di socmed semacam twitter. Hal itu adalah hal yang sangat memalukan karena secara tidak langsung mereka seperti orang dewasa yang berkelahi di depan khalayak umum. Sayang sekali, mereka tampaknya terlalu memanfaatkan twitter sebagai media sarkasme dan tak jarang menggunakan kata-kata kotor yang menusuk dan membuat sakit hati. 

Selesaikanlah masalah yang ada dengan baik-baik dan tidak usah kau tunjukkan di depan masyarakat luas. Hal itu hanya dilakukan oleh dua kalangan: 1. Anak kecil dan 2. Orang yang pengen banget masalahnya ter-expose. Situ bukan artis! :)

No comments:

Post a Comment